Krisis iklim dan ancaman kepunahan keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar bahan diskusi di ruang rapat ber-AC atau konferensi ilmiah. Di garis depan perjuangan, generasi muda dan komunitas adat dari berbagai penjuru dunia kian menunjukkan kekuatan seni, budaya, dan kearifan lokal sebagai alat ampuh untuk menembus kebuntuan birokrasi dalam upaya konservasi. Semangat ini mengemuka kuat dalam Rainforest Youth Summit (RAYS) 2026 yang digelar di Kuching, Sarawak, Malaysia.
Para aktivis lingkungan lintas negara dan budaya sepakat bahwa model perjuangan konservasi yang kaku dan bersifat top-down harus segera ditinggalkan. Masa depan pelestarian lingkungan menuntut pendekatan yang lebih inklusif, berakar pada komunitas, dan mampu menjangkau mereka yang terhalang oleh perbedaan bahasa maupun akses pendanaan internasional. Dzaeman Dzulkifli, Direktur Eksekutif Pusat Konservasi dan Penelitian Hutan Hujan Tropis (TRCRC) Malaysia, menyoroti ironi yang masih melingkupi upaya konservasi saat ini.
"Kebutuhan akan energi dan ide-ide segar sangat mendesak, namun ironisnya, generasi muda atau komunitas lokal justru sering kali terbentur birokrasi yang rumit ketika mencoba mengakses pendanaan," ungkap Dzulkifli dalam sesi dialog dengan media di sela RAYS 2026 pada Rabu, 24 Juni 2026. Ia menambahkan, persyaratan administratif yang memberatkan dan jargon teknis dalam kerangka pendanaan internasional seperti Green Climate Fund atau GEF, sering kali membuat gentar kelompok pemuda atau LSM kecil yang beroperasi di akar rumput.
"Ini adalah hambatan sistemik yang harus segera didekonstruksi jika kita ingin aksi iklim benar-benar berjalan efektif," tegas Dzulkifli. Menyadari kendala ini, TRCRC kini berperan sebagai jembatan, menangani aspek administratif dan pelaporan yang kompleks agar komunitas lokal dapat fokus pada implementasi program di lapangan. Namun, ia menekankan bahwa perubahan pada sistem pendanaan global secara keseluruhan tetap menjadi harapan utama.
"Lembaga pendanaan global harus menyederhanakan proses mereka dan menciptakan skema hibah mikro yang lebih ramah bagi generasi muda dan masyarakat adat. Skema tersebut tidak semestinya menuntut proposal berstandar akademis setingkat doktoral yang sering kali tidak relevan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan," ujar Dzulkifli. Ia menyarankan agar skema hibah tersebut lebih fleksibel dan adaptif terhadap realitas di lapangan.
Selain hambatan birokrasi, kesenjangan bahasa dan budaya juga menjadi tembok penghalang dalam komunikasi isu lingkungan. Diwigdi Valiente, aktivis dari masyarakat adat Guna di Panama, menekankan bahwa narasi iklim global sering kali hanya menggunakan bahasa-bahasa Barat, seperti Inggris dan Spanyol. Hal ini membuat pesan krusial tentang pelestarian lingkungan sulit dipahami, bahkan tidak tersampaikan sama sekali, oleh masyarakat adat di wilayah terpencil.
"Sangat sulit membicarakan hilangnya keanekaragaman hayati jika bahasa yang digunakan dalam studi ilmiah saja asing bagi masyarakat di wilayah bersangkutan. Itulah mengapa penceritaan (storytelling) melalui gambar, lagu, dan tradisi lisan setempat menjadi pintu masuk yang ideal untuk menghubungkan isu krusial ini kepada masyarakat luas," jelas Valiente, yang juga menjabat Manajer Program Senior di Wildlife Conservation Society (WCS).
Sarah Lois Dorai, seorang aktivis lingkungan dari suku Kelabit di Sarawak, mengamini pandangan tersebut. Menurutnya, seni memegang peranan penting sebagai sarana efektif untuk mengatasi tantangan dalam menyuarakan isu lingkungan. Seni yang mengandung muatan lokal, ucap Dorai, tidak hanya lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat, tetapi juga mampu menjadi bahasa universal yang dipahami publik global.
Salah satu bentuk seni yang semakin didorong untuk kampanye lingkungan adalah film dokumenter. Bagi Dorai, film bukan sekadar alat rekam visual, melainkan sebuah medium refleksi yang mampu memantik emosi. Melalui karya sinematik yang mengangkat persoalan hilangnya identitas dan kerusakan hutan adat, generasi muda diharapkan dapat lebih cepat menyadari nilai-nilai leluhur yang kini terancam punah.
Proses kerja kreatif ini tentu tidak lepas dari tantangan, termasuk biaya logistik yang terkadang memberatkan. Namun, skema kolaborasi terbukti mampu mengatasi kendala tersebut. Dorai mencontohkan pengalamannya dalam menggarap film dokumenter "Sound of the Highlands" yang dirilis pada 2025. Film tersebut mengisahkan upaya pelestarian bahasa Kelabit yang terancam punah di dataran tinggi Bario, Sarawak.
"Kami tidak datang dengan kru besar ala produksi film komersial. Kami melatih pemuda lokal untuk menjadi kru. Mereka yang memahami medannya, mereka pula yang menjaga ritme kehidupan masyarakat agar tidak terganggu. Film ini menjadi pintu masuk untuk membangkitkan kembali rasa kepedulian masyarakat," tutur Dorai. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal dan memastikan narasi yang disampaikan otentik.
Perluasan cakrawala perjuangan konservasi juga menyentuh aspek keadilan ekonomi. Ashley Lashley, Penasihat Pemuda Urusan Perubahan Iklim untuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mantan Miss World Barbados 2018, menyoroti kekhawatiran generasi muda di wilayah perdesaan yang merasa terasing dari masa depan yang layak huni. Oleh karena itu, aksi iklim harus dikaitkan secara konkret dengan mata pencarian.
Lashley memberikan contoh dampak perubahan iklim di negaranya, Barbados, yang merupakan negara kepulauan di Karibia. Ia mengamati bahwa banyak masyarakat masih belum sepenuhnya percaya ancaman perubahan iklim sebagai hal nyata, sehingga cenderung menghindari pekerjaan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Generasi muda justru didorong mengejar profesi yang dianggap lebih menjanjikan, seperti dokter, pengacara, atau ilmuwan, yang seringkali mengharuskan mereka meninggalkan daerah asal. Hal ini berpotensi memutus tradisi dan pengetahuan lokal terkait lingkungan.
"Padahal, pekerjaan di sektor lingkungan sangat luas dan menjanjikan keberlanjutan kehidupan. Di sisi lain, pengabaian terhadap isu lingkungan dapat menjadi bom waktu bagi Barbados," ujar Lashley. Ia menekankan bahwa negara kepulauan ini sangat rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan yang pada akhirnya turut memengaruhi perekonomian, terutama bagi perempuan kepala keluarga.
Lashley aktif mengajak generasi muda Barbados terlibat dalam aksi iklim melalui dialog antargenerasi untuk melestarikan budaya yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan. "Melalui advokasi lokal dan regional, anak muda perlahan mulai menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk melindungi lingkungan melalui prinsip 3R, yakni reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang)," jelasnya.
Menanggapi potensi urbanisasi pemuda yang meninggalkan desa, Dzaeman Dzulkifli menambahkan bahwa penciptaan peluang kerja bernilai ekonomi lebih tinggi di sektor restorasi hutan sangat krusial. Aliran dana dari kredit karbon dan kredit keanekaragaman hayati harus mengalir langsung kepada komunitas yang berperan sebagai pengelola lahan. "Kesalahannya adalah ketika perusahaan besar memonetisasi karbon tanpa melibatkan komunitas. Padahal, komunitas memegang peran sangat penting dan mereka harus dihargai secara adil," kata Dzulkifli.
"Sekarang kita harus berbenah. Kita perlu menjamin kesejahteraan bagi mereka yang memilih bekerja di bidang restorasi hutan maupun pelestarian lingkungan. Dengan begitu, mereka tidak harus pindah ke kota untuk bekerja di sektor lain yang sebenarnya berupah rendah dan berisiko memutus kearifan lokal yang berkaitan dengan lingkungan," tutur Dzulkifli.
Tori Tsui, seorang aktivis lingkungan yang berbasis di Inggris dan Hong Kong, menyadari keresahan generasi muda mengenai pasar kerja, baik tradisional maupun berbasis lingkungan. Namun, ia mengingatkan bahwa keterlibatan dalam pelestarian lingkungan tidak harus selalu berujung pada gelar akademis atau pekerjaan formal. "Banyak anak muda yang peduli terhadap masa depan dunia. Ketika saya mengorganisasi gerakan di Inggris, saya menemukan bahwa sebagian besar dari mereka tidak memiliki gelar di bidang lingkungan dan tidak bekerja secara formal di sektor lingkungan. Namun, mereka justru melakukan kerja-kerja akar rumput. Itulah pintu masuk terbaik," ujar Tsui.
Ia mendorong anak muda untuk bergabung dengan komunitas lokal, mengidentifikasi persoalan di sekitar, dan mencari solusi bersama. Secara umum, para aktivis lingkungan lintas negara dan budaya sepakat bahwa masa depan lingkungan sangat bergantung pada sejauh mana dunia mau mendengarkan serta memberikan ruang dan kuasa kepada masyarakat adat dan generasi muda untuk menentukan nasib wilayah mereka.
"Kami menuntut lembaga internasional berhenti memaksa komunitas lokal menyesuaikan diri dengan struktur kolonial. Sebaliknya, mereka harus mulai mengakui tradisi lisan dan pemantauan berbasis komunitas sebagai mekanisme pelaporan yang sah," tegas Valiente. Dari RAYS 2026, kolaborasi dan kreativitas yang menembus berbagai sekat terbukti menjadi kunci agar suara dari akar rumput memiliki gaung yang lebih luas. Perjuangan menyelamatkan lingkungan pada hakikatnya adalah perjuangan mengembalikan kedaulatan kepada mereka yang selama ini hidup berdampingan dengan alam dan menjaganya melalui kerja keras serta tradisi yang diwariskan turun-temurun.











