Salim Group: Dari Puncak Kejayaan Tiga Dekade ke Jurang Krisis 1998

Emanuel

Perjalanan dinasti bisnis keluarga Salim, sebuah nama yang identik dengan raksasa ekonomi Indonesia melalui bendera Indofood, pernah mengalami titik terendah yang mengguncang. Di balik imperium yang dikelola lintas generasi, tersimpan kisah pasang surut yang erat kaitannya dengan figur pendiri, Sudono Salim, dan relasinya yang mendalam dengan lingkaran kekuasaan Orde Baru.

Kisah ini adalah bagian dari CNBC Insight, rubrik yang mengulas sejarah untuk memahami kondisi masa kini melalui relevansi masa lalu. Khusus terkait bencana, rubrik ini bertujuan membangun kesadaran dan kewaspadaan terhadap mitigasi.

Awal Mula Kekuatan: Kedekatan dengan Penguasa

Siapa yang tak kenal Indofood? Salah satu pilar utama dari kerajaan bisnis keluarga Salim ini kerap dipandang sebagai simbol kekuatan ekonomi nasional. Namun, di balik rekam jejak panjang dan nama besarnya yang melegenda, tidak banyak yang menyadari bahwa roda bisnis keluarga Salim sempat terhempas hingga ke titik nadir.

Melesatnya skala bisnis konglomerasi ini hingga akhirnya sempat luluh lantak tak lepas dari jejaring kemitraan awal yang dirajut oleh Sudono Salim bersama otoritas rezim Orde Baru. Sudono Salim, yang dikenal juga sebagai Liem Sioe Liong, memiliki kedekatan personal yang kuat dengan Presiden kedua RI, Soeharto. Sejak awal kemerdekaan, Sudono sudah berkiprah sebagai pengusaha impor cengkeh dan logistik tentara.

Jaringan bisnisnya yang luas menarik perhatian Kolonel Soeharto. Melalui perantara sepupunya, Sulardi, Salim dan Soeharto berkenalan. Salim kemudian menjadi penyuplai logistik pasukan Kolonel Soeharto selama Perang Kemerdekaan (1945-1949). Perkenalan inilah yang menjadi titik balik dalam karier bisnis Sudono Salim.

"Setelah Soeharto meraih kekuasaan di Indonesia pada pertengahan 1960-an dan menjadi presiden, dia didukung oleh kelompok kroni pengusaha, yang terbesar dan terkuat adalah Liem Sioe Liong," tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam buku "Liem Sioe Liong dan Salim Group" (2016).

Selama tiga dekade di bawah pemerintahan Orde Baru, keduanya menjalin hubungan saling menguntungkan. Soeharto memberikan perlindungan dan memastikan kelancaran bisnis Salim. Sebagai imbalannya, kerajaan bisnis Salim Group menyalurkan dana kepada Soeharto, keluarganya, dan kroni-kroni lainnya. Hasilnya, kedua pihak meraih kejayaan di bidangnya masing-masing. Salim sukses terdaftar sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, sementara Soeharto kokoh memegang tampuk kekuasaan di Tanah Air.

Keruntuhan Tiba-tiba di Tengah Krisis 1998

Namun, kejayaan yang terjalin selama puluhan tahun itu tiba-tiba hancur lebur dalam hitungan hari pada Mei 1998. Krisis moneter Asia yang melanda Indonesia pada akhir 1997 memicu gelombang ketidakpuasan masyarakat yang berujung pada krisis multidimensional.

Selama tiga dekade, Salim sukses membangun tiga kerajaan bisnis utama di sektor perbankan (Bank Central Asia/BCA), bangunan (Indocement), dan makanan (Bogasari dan Indofood). Ketiganya menjadi tulang punggung kekayaan keluarga Salim. Namun, imperium ini mulai goyah saat krisis 1998 menerjang. Sektor perbankan, khususnya BCA, menjadi yang paling parah terdampak.

Sejarawan M.C Ricklefs dalam "Sejarah Indonesia Modern" (2009) mencatat, selama masa krisis, nasabah menarik dana secara massal dari bank. Ratusan orang rela antre berjam-jam demi menguras seluruh tabungannya. Kondisi ini membuat BCA, yang mulai kehilangan kepercayaan masyarakat, terancam bangkrut.

Puncak dari rangkaian krisis ini terjadi pada Mei 1998. Kedekatan Sudono Salim dengan Soeharto, yang sebelumnya menjadi sumber kekuatan, justru berubah menjadi malapetaka. Munculnya sentimen anti-Soeharto akibat meluasnya krisis ekonomi ke kemelut politik menjadi pukulan telak bagi Salim.

Rakyat yang mengetahui kedekatan keduanya menjadikan Salim sebagai target sasaran amuk massa. Sebagai orang terkaya yang diasosiasikan dengan rezim berkuasa, Salim harus "dihancurkan." Hal ini terjadi setelah unjuk rasa mahasiswa bergeser menjadi kerusuhan rasial pada 13 Mei 1998.

Amukan Massa dan Serangan Terhadap Aset

Pada 13 Mei 1998, Jakarta dan sekitarnya dilanda kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran terhadap rumah, bangunan pertokoan, serta kendaraan. Aksi ini dipicu oleh provokasi massa yang menyasar bangunan dan kendaraan milik etnis Tionghoa, bahkan menargetkan individu Tionghoa.

Jemma Purdey dalam karyanya "Kekerasan Anti-Tionghoa di Indonesia 1996-1999" (2013) menjelaskan bahwa sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa muncul karena stereotip bahwa mereka patut dibenci karena kekayaan dan kedekatan mereka dengan penguasa Soeharto. Tokoh sentral yang paling melekat dengan deskripsi ini adalah Sudono Salim.

"Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto merupakan sasaran utama pembakaran dan penjarahan. Bank Central Asia milik Liem Sioe Liong merupakan objek serangan utama," tulis Ricklefs.

Dalam catatan Richard Borsuk dan Nancy Chng, beruntung saat kerusuhan terjadi, Sudono Salim, istrinya, dan beberapa anaknya sedang berada di Amerika Serikat untuk menemani operasi mata Sudono. Di Jakarta, hanya Anthony Salim yang berada di kantornya, Wisma Indocement, Jalan Sudirman. Anthony bahkan tidak berani pulang ke rumah ayahnya di kawasan Roxy karena kerusuhan juga menyasar permukiman warga Tionghoa. Ia khawatir keselamatannya terancam.

Prediksi Anthony terbukti benar. Pagi hari tanggal 14 Mei, ia menerima kabar bahwa rumah ayahnya didatangi sekelompok pemuda dengan penampilan mengancam, bersenjatakan jerigen bahan bakar dan perkakas, berniat merusak rumah mewah tersebut. Tanpa bisa berbuat banyak, Anthony memerintahkan satpam untuk mempersilakan massa masuk dan merusak rumah, demi menghindari pertumpahan darah.

"Dalam sekejap, seluruh mobil di garasi terbakar, termasuk juga seisi rumah. Mereka membakar furnitur, mencopot lukisan dan mengobrak-abrik kamar. Bahkan mereka mencoret-coret rumah dengan kata-kata tidak pantas," tutur Anthony kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Asap hitam membumbung tinggi dari kediaman Salim, sementara di jalanan, foto Salim dilempari batu dan dibakar oleh massa yang marah. Melihat situasi Jakarta yang memburuk, Anthony segera meninggalkan kantornya menuju Bandara Halim untuk terbang ke Singapura menggunakan jet pribadi. Dari Singapura, ia memantau perkembangan bisnisnya di tengah masa-masa sulit tersebut.

Kebangkitan Kembali Sang Konglomerat

Setelah kerusuhan mereda dan Soeharto akhirnya lengser dari jabatannya pada 21 Mei 1998, dampak krisis terhadap aset Salim Group terasa masif. BCA mengalami kerugian paling parah. Tercatat 122 cabangnya mengalami kerusakan, dengan 17 kantor terbakar habis, 26 cabang dirusak dan dijarah, serta 75 cabang rusak namun tidak dijarah. Sebanyak 150 ATM juga dirusak dan uang tunainya diambil, menimbulkan kerugian sekitar Rp 3 miliar.

Indofood juga tidak luput dari serangan. Pabriknya di Solo dijarah dan dibakar, menimbulkan kerugian Rp 42 miliar. Pusat distribusinya di Tangerang pun hancur dijarah massa. Hanya Indocement yang relatif mampu bertahan.

Namun, pukulan telak terjadi di sektor perbankan. Seminggu setelah Soeharto lengser, BCA diambil alih oleh pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) karena kondisi keuangannya yang semakin memburuk dan tidak tertolong. BCA ditetapkan sebagai BTO (Bank Taken Over) dengan tujuan penyelamatan agar tidak tenggelam lebih dalam. Sejak saat itu, BCA tidak lagi sepenuhnya menjadi milik keluarga Salim.

Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebutkan, untuk menghidupkan kembali mesin kekayaannya, Salim Group sempat hanya mengandalkan Indofood.

Kini, lebih dari dua dekade pasca-tragedi 1998, bisnis keluarga Salim telah bangkit dan kembali berjaya. Imperium mereka tidak hanya terbatas pada Indofood, tetapi telah merambah ke berbagai sektor strategis seperti migas, konstruksi, perbankan, hingga data center.

Berdasarkan daftar 50 orang terkaya versi Forbes, Anthony Salim dan keluarga kini menduduki peringkat kelima, dengan total kekayaan mencapai US$ 10,6 miliar atau setara dengan Rp 188,88 triliun (dengan kurs Rp 17.820 per dolar AS). Perjalanan mereka menjadi bukti ketangguhan dalam menghadapi badai krisis dan bangkit kembali dari keterpurukan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All