Ukraina kembali dilanda gelombang serangan rudal dari Rusia pada Jumat (29/12/2023). Serangan masif ini menyasar sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Kyiv dan kota Lviv di bagian barat. Kobaran api hebat dilaporkan membumbung tinggi, menghanguskan rumah-rumah warga akibat gempuran rudal tersebut.
Menurut Kementerian Pertahanan Ukraina, Rusia melancarkan sedikitnya 122 rudal dari berbagai jenis, termasuk rudal jelajah, rudal hipersonik Kinzhal, dan rudal balistik. Selain itu, sebanyak 36 drone kamikaze Shahed juga dikerahkan dalam serangan terkoordinasi ini. Serangan ini merupakan salah satu yang terbesar sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022.
Korban jiwa akibat serangan ini terus bertambah. Juru Bicara Layanan Darurat Negara Ukraina, Oleksandr Khorunzhiy, melaporkan bahwa hingga Sabtu (30/12/2023) pagi, sedikitnya 30 orang dilaporkan tewas. Angka ini kemungkinan masih akan terus bertambah seiring dengan upaya penyelamatan dan evakuasi yang masih berlangsung di lokasi-lokasi terdampak.
Di Kyiv, serangan rudal dilaporkan menghantam sejumlah gedung perumahan dan infrastruktur penting. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyatakan bahwa setidaknya 17 orang tewas di ibu kota dan puluhan lainnya terluka. “Api membumbung tinggi dan menghancurkan rumah-rumah warga,” ujar Klitschko kepada media, menggambarkan situasi mengerikan di lokasi kejadian.
Sementara itu, di Lviv, serangan juga menyebabkan kerusakan signifikan. Wali Kota Lviv, Andriy Sadovyi, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 10 orang tewas akibat serangan rudal yang menghantam sebuah gedung bersejarah. “Ini adalah serangan yang mengerikan, menghancurkan warisan budaya kita dan merenggut nyawa tak berdosa,” kata Sadovyi dengan nada prihatin.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengecam keras serangan tersebut dan menyatakan bahwa Rusia tidak akan luput dari pertanggungjawaban. “Setiap rudal yang ditembakkan, setiap drone yang dikirim, setiap nyawa yang hilang, akan dibalas. Tidak ada tempat bagi teroris di dunia ini,” tegas Zelenskyy dalam sebuah pernyataan video.
Serangan ini juga mendapat kecaman internasional. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, melalui juru bicaranya, Stéphane Dujarric, menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati hukum humaniter internasional. “Serangan yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil adalah hal yang tidak dapat diterima,” ujar Dujarric.
Pihak Rusia sendiri belum memberikan komentar resmi terkait serangan masif ini. Namun, sebelumnya Rusia kerap menyatakan bahwa serangan mereka ditujukan pada sasaran militer dan menolak tuduhan menargetkan warga sipil.
