Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serangan besar terhadap Iran sebagai respons atas tewasnya tiga prajurit AS dalam serangan drone di pangkalan militer di Yordania. Pernyataan tegas ini menambah eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran serius mengenai potensi kegagalan gencatan senjata yang rapuh di kawasan tersebut.
Trump, yang berbicara di hadapan para pendukungnya di South Carolina pada Sabtu (3/2/2024), menyatakan bahwa kematian para prajurit tersebut adalah akibat dari kebijakan luar negeri yang lemah. Ia berjanji akan mengambil tindakan tegas jika kembali menduduki Gedung Putih. “Kita akan menyerang Iran. Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras,” tegas Trump, meniru gaya retorikanya yang khas.
Serangan drone yang menewaskan tiga prajurit AS dan melukai puluhan lainnya terjadi pada Minggu (28/1/2024) di sebuah pangkalan di dekat perbatasan Suriah-Yordania. Kelompok milisi yang didukung Iran, Kataib Hizbullah, dituding sebagai pelaku serangan tersebut. Insiden ini menjadi eskalasi paling mematikan terhadap pasukan AS di Timur Tengah sejak dimulainya perang antara Israel dan Hamas pada Oktober 2023.
Trump tidak hanya mengkritik kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Joe Biden, tetapi juga menyoroti penanganan krisis di Timur Tengah. Ia menyalahkan Biden atas apa yang disebutnya sebagai kelemahan yang mendorong Iran untuk melakukan agresi. “Ini tidak akan pernah terjadi jika saya menjadi presiden,” ujar Trump kepada kerumunan di Florence, South Carolina.
Meskipun Trump tidak lagi menjabat, pernyataannya mencerminkan pandangan yang kuat di kalangan Partai Republik mengenai perlunya respons yang lebih keras terhadap Iran. Ancaman Trump ini muncul di tengah upaya diplomatik internasional untuk menahan konflik agar tidak meluas di Timur Tengah dan mencegah kegagalan gencatan senjata yang diusulkan.
Kematian prajurit AS di Yordania telah memicu perdebatan sengit mengenai strategi AS di kawasan tersebut. Pernyataan Trump ini berpotensi memengaruhi lanskap politik domestik AS menjelang pemilihan presiden tahun ini, sekaligus menambah ketidakpastian di kancah internasional.
