Pembalap muda Indonesia yang berkompetisi di ajang Moto3 Junior dan Red Bull Rookies Cup, Kiandra Ramadhipa, baru-baru ini mengungkapkan pandangannya mengenai perbedaan fasilitas latihan balap antara Indonesia dan Eropa. Menurutnya, Indonesia telah memiliki sarana yang cukup memadai untuk pembinaan talenta balap motor di tingkat nasional.
Ramadhipa, yang kini tengah menimba pengalaman di sirkuit-sirkuit internasional, mengakui bahwa infrastruktur balap di Tanah Air terus berkembang. Ia mengapresiasi upaya yang telah dilakukan dalam menyediakan fasilitas yang mendukung para pembalap muda untuk berlatih dan mengasah kemampuan mereka.
Namun, Ramadhipa juga tidak menampik adanya perbedaan signifikan ketika membandingkan dengan apa yang tersedia di Eropa. Ia menyoroti aspek-aspek spesifik yang menjadi pembeda utama dalam hal fasilitas latihan. “Di Eropa, fasilitasnya sangat lengkap dan terstruktur. Mulai dari trek yang bervariasi, pusat pelatihan fisik dan mental yang canggih, hingga dukungan teknologi yang mumpuni untuk analisis performa,” ujar Ramadhipa.
Ia menambahkan bahwa ketersediaan sirkuit yang didesain khusus untuk berbagai tingkatan kompetisi, serta program pembinaan yang terintegrasi dengan baik, menjadi keunggulan tersendiri di benua biru. Hal ini memungkinkan para pembalap untuk mendapatkan pengalaman berlatih yang lebih mendalam dan sesuai dengan standar balap internasional.
Meskipun demikian, Ramadhipa tetap optimis terhadap potensi pengembangan balap motor di Indonesia. Ia percaya bahwa dengan terus adanya perhatian dan investasi pada fasilitas serta program pembinaan, Indonesia dapat melahirkan lebih banyak lagi pembalap berprestasi di kancah global. Ia menekankan pentingnya adaptasi dan pembelajaran dari sistem yang sudah mapan di Eropa untuk diterapkan secara bertahap di Indonesia.
