Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa pendapatan tahunan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) atau Whoosh sebesar Rp 800 miliar akan mencukupi untuk melunasi utang proyek tersebut. Pernyataan ini menggarisbawahi optimisme pemerintah terhadap keberlanjutan finansial salah satu proyek infrastruktur strategis nasional ini.
Menurut Purbaya, proyek yang telah diresmikan pengoperasiannya pada 2 Oktober 2023 lalu ini diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan operasional sekitar Rp 800 miliar setiap tahunnya. Angka ini dianggap Purbaya sebagai fondasi kuat untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang yang timbul dari pembangunan Whoosh.
“Kita kan hitung-hitungannya, kalau operasional itu kan bisa Rp 800 miliar per tahun. Itu sudah cukup untuk membayar utang,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Rabu (27/3/2024).
Purbaya menambahkan bahwa perhitungan tersebut belum termasuk pendapatan dari sisi non-tiket. Ia menjelaskan bahwa potensi pendapatan dari lini bisnis lain yang terkait dengan operasional Whoosh, seperti komersial dan pengembangan kawasan berorientasi TOD (Transit Oriented Development), masih menjadi potensi tambahan yang signifikan.
Lebih lanjut, Menteri Keuangan menguraikan bahwa skema pembayaran utang Whoosh akan dimulai setelah masa grace period atau masa tenggang berakhir. Setelah periode tersebut usai, aliran kas dari operasional Whoosh akan dialokasikan secara optimal untuk pembayaran cicilan pokok dan bunga utang.
Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung sendiri merupakan proyek kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok. Pembangunan proyek ini didanai melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan berbagai lembaga keuangan lainnya, dengan total investasi yang mencapai miliaran dolar Amerika Serikat.
Pemerintah terus berupaya memastikan bahwa proyek-proyek strategis seperti Whoosh tidak hanya memberikan manfaat dalam hal konektivitas dan mobilitas, tetapi juga mampu memberikan imbal hasil finansial yang berkelanjutan dan terkelola dengan baik.
