Tuesday, 25 August 2026
BREAKING
BERITA

Prokrastinasi: Bukan Sekadar Malas, Ini Penjelasan Psikologis dan Solusinya

Oleh Emanuel August 24, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Sebuah pemahaman baru mengenai prokrastinasi, atau kebiasaan menunda pekerjaan, diungkap oleh para ahli psikologi. Kebiasaan ini ternyata tidak sesederhana dianggap sebagai kemalasan atau kurangnya disiplin. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada faktor psikologis kompleks yang mendasarinya, serta menawarkan solusi efektif untuk mengatasinya.

Menurut Dr. Piers Steel, seorang profesor di University of Calgary dan penulis buku ‘The Procrastination Equation’, prokrastinasi adalah sebuah fenomena yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ia menekankan bahwa penundaan ini sering kali berkaitan dengan emosi, bukan sekadar manajemen waktu. “Prokrastinasi adalah kecenderungan untuk menunda-nunda suatu tugas, terlepas dari konsekuensi negatif yang mungkin timbul,” jelas Dr. Steel dalam sebuah kutipan.

Faktor utama yang mendorong seseorang untuk menunda pekerjaan adalah kesulitan dalam mengatur emosi negatif yang terkait dengan tugas tersebut. Rasa cemas, takut gagal, kebosanan, atau ketidakpastian dapat memicu keinginan untuk menghindari tugas. Alih-alih menghadapi perasaan tidak nyaman tersebut, otak mencari pelarian instan dengan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan atau kurang menekan.

Selain itu, teori lain yang dikemukakan oleh Dr. Timothy Pychyl, seorang profesor di Carleton University dan penulis ‘Solving the Procrastination Puzzle’, menyoroti pentingnya persepsi terhadap tugas. Tugas yang dianggap sulit, membosankan, tidak bermakna, atau tidak memiliki imbalan yang jelas cenderung lebih mudah ditunda. Hal ini diperparah oleh kecenderungan manusia untuk lebih menghargai kepuasan instan (misalnya, berselancar di media sosial) daripada imbalan jangka panjang (menyelesaikan pekerjaan).

Untuk mengatasi prokrastinasi, para ahli menyarankan beberapa strategi. Pertama, memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikelola. Ini dapat mengurangi rasa kewalahan dan membuat tugas terasa lebih ringan. Kedua, menetapkan tenggat waktu yang realistis dan memvisualisasikan hasil positif dari penyelesaian tugas. Ketiga, mengelola gangguan eksternal dan internal, seperti mematikan notifikasi ponsel atau menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.

Penting juga untuk mengembangkan strategi pengaturan emosi. Mengakui dan menerima perasaan negatif yang muncul saat menghadapi tugas, daripada menekannya, dapat membantu. Teknik seperti ‘mindfulness’ atau meditasi juga bisa menjadi alat yang berguna. Terakhir, fokus pada proses daripada hasil akhir dapat mengurangi tekanan dan kecemasan, sehingga mempermudah untuk memulai dan menyelesaikan pekerjaan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp