Nilai tukar rupiah diprediksi akan mengalami pelemahan pada perdagangan Rabu, 5 Agustus. Kondisi ini menyusul penutupan perdagangan Selasa (4/8) yang juga berakhir minus, dengan rupiah terdepresiasi 25 poin menjadi Rp 18.030 per dolar Amerika Serikat.
Analis pasar keuangan dari PT Indo Premier Sekuritas, Rivan A. Purwantoro, mengemukakan bahwa pelemahan rupiah ini dipicu oleh beberapa faktor, baik dari ranah global maupun domestik. Sentimen negatif global menjadi salah satu pendorong utama, seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi dunia.
Lebih lanjut, Rivan menjelaskan bahwa data-data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini turut memicu kekhawatiran pasar. “Perlambatan ekonomi global dan potensi penurunan permintaan komoditas menjadi sentimen negatif yang perlu diwaspadai,” ujar Rivan.
Di sisi domestik, Rivan menyoroti bahwa pasar masih mencermati perkembangan data-data ekonomi Indonesia yang akan dirilis dalam waktu dekat. Ketidakpastian terkait rilis data tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meskipun demikian, Rivan juga mengingatkan bahwa ada sejumlah faktor yang dapat menahan pelemahan rupiah lebih lanjut. “Arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia, terutama ke pasar saham, masih menjadi penopang yang cukup kuat,” tuturnya.
Rivan memperkirakan, pelemahan rupiah pada perdagangan Rabu (5/8) akan berada dalam rentang Rp 18.000 hingga Rp 18.080 per dolar AS. Ia menyarankan pelaku pasar untuk tetap mencermati perkembangan sentimen global dan domestik guna mengantisipasi pergerakan nilai tukar rupiah selanjutnya.
