Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Thailand, Srettha Thavisin, telah menjajaki langkah strategis untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Pertemuan penting ini menghasilkan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) yang berfokus pada peningkatan kerja sama di berbagai sektor, termasuk politik, keamanan, dan ekonomi, dengan target ambisius hingga tahun 2030.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin, 13 Mei 2024, di Bangkok, kedua pemimpin negara sepakat untuk mendorong nilai perdagangan antara Indonesia dan Thailand. Angka yang diproyeksikan mencapai 23 miliar dolar AS atau setara dengan Rp359 triliun. Kesepakatan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari peningkatan investasi, fasilitasi perdagangan, hingga pengembangan sektor-sektor strategis yang saling menguntungkan.
Selain target perdagangan, penandatanganan nota kesepahaman juga mencakup komitmen untuk memperdalam kerja sama di bidang politik dan keamanan. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas regional dan mengatasi berbagai tantangan bersama yang dihadapi oleh negara-negara di Asia Tenggara. Kedua negara menegaskan kembali pentingnya dialog dan kerja sama yang konstruktif dalam menghadapi isu-isu global.
Presiden Prabowo menyatakan optimismenya terhadap potensi peningkatan hubungan kedua negara. Ia menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya akan menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga akan memperkuat posisi Indonesia dan Thailand di kancah internasional. “Saya yakin bahwa dengan kerja sama yang erat, kita dapat mencapai target yang telah ditetapkan dan membawa hubungan bilateral kita ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” ujar Prabowo dalam kesempatan tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri Srettha Thavisin menyambut baik inisiatif ini. Ia menyampaikan bahwa Thailand siap untuk berkolaborasi secara aktif dalam mewujudkan target-target yang telah disepakati. “Thailand memiliki komitmen yang kuat untuk mempererat hubungan dengan Indonesia. Kami melihat potensi besar dalam kerja sama ekonomi dan kami siap untuk membuka pintu bagi investasi dan perdagangan yang lebih luas,” kata Srettha.
Penandatanganan dua nota kesepahaman ini menjadi bukti konkret dari keseriusan kedua negara dalam meningkatkan kemitraan strategis. Fokus pada periode hingga 2030 menunjukkan visi jangka panjang yang dimiliki oleh Indonesia dan Thailand untuk membangun kawasan yang lebih stabil, sejahtera, dan berdaya saing.
