Polemik Tutup Mulut di Piala Dunia 2026: Mengapa Jude Bellingham Lolos dari Kartu Merah?

Danu Ilham

Kontroversi mewarnai laga Piala Dunia 2026 saat foto Jude Bellingham, gelandang Timnas Inggris, tertangkap kamera menutup mulutnya saat berbicara dengan Jordan Ayew dari Ghana. Tindakan ini memicu pertanyaan publik, terutama mengingat adanya peraturan baru yang melarang pemain menyembunyikan mulut saat berkomunikasi dengan lawan di lapangan. Peraturan ini, yang mulai berlaku sejak edisi 2026, memang dirancang untuk meningkatkan transparansi dan sportivitas dalam pertandingan sepak bola.

Peraturan mengenai larangan menyembunyikan mulut saat berbicara dengan lawan ini merupakan inisiatif yang diajukan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino. Latar belakangnya adalah insiden yang melibatkan Gianluca Prestianni, winger Benfica, yang menerima sanksi enam pertandingan dari UEFA akibat perilaku homofobik terhadap Vinicius Jr. dari Real Madrid dalam pertandingan Liga Champions pada Februari lalu. Untuk mencegah kejadian serupa dan memastikan komunikasi yang terbuka, FIFA memutuskan untuk menerapkan aturan ini di turnamen global.

Yang menarik, Paraguay’s Miguel Almiron tercatat sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah akibat pelanggaran ini. Ia diusir wasit setelah Video Assistant Referee (VAR) mengintervensi dalam pertandingan melawan Turki di akhir pekan lalu. Insiden ini mempertegas keseriusan FIFA dalam menegakkan aturan baru tersebut, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengapa Jude Bellingham tidak mengalami nasib serupa dalam laga imbang 0-0 melawan Ghana di Boston.

Kunci perbedaan interpretasi dalam kedua insiden tersebut terletak pada konteks percakapan. FIFA menegaskan bahwa larangan bukan pada tindakan menutup mulut itu sendiri, melainkan pada melakukannya dalam situasi konfrontatif dengan pemain lawan. Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, sebelumnya telah memberikan penjelasan rinci mengenai hal ini. Ia menyatakan bahwa pemain masih diperbolehkan menutup mulut dengan tangan atau lengan saat berbincara santai dengan rekan setim atau bahkan lawan, selama percakapan tersebut bersifat persahabatan.

"Pemain masih bisa menutup mulut mereka dengan lengan dan kaus karena mereka mungkin mengobrol dengan teman," ujar Collina. "Adalah normal untuk mengobrol sebelum, selama, atau setelah pertandingan. Jadi, jika percakapan itu bersahabat, mereka dapat terus melakukannya tanpa masalah apa pun. Ketika percakapan bersifat konfrontatif, menutup mulut berarti Anda melakukan sesuatu yang sangat salah, berpotensi, dan sanksinya adalah kartu merah."

Di sepanjang gelaran Piala Dunia kali ini, telah banyak terlihat momen pemain saling berbicara sambil menutup mulut, bahkan para wasit pun tidak luput dari tindakan serupa. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi santai antar pemain di lapangan memang masih menjadi bagian dari dinamika permainan yang umum. Dalam kasus Bellingham dan Ayew, tidak terlihat adanya unsur permusuhan atau ketegangan yang tinggi, melainkan murni percakapan antar pemain yang sedang berlaga.

Perbedaan signifikan terlihat pada insiden yang melibatkan Miguel Almiron. Dalam pertandingan tersebut, terjadi situasi panas setelah pemain Paraguay, Isidro Pitta, terjatuh dan mengklaim adanya pelanggaran keras dari Ismail Yuksek dari Turki. Kejadian ini memicu keributan antar kedua tim. Di tengah situasi yang memanas itu, Almiron terlihat menutup mulutnya saat berbicara dengan Mert Muldur dari Turki.

Meskipun Almiron dan Muldur tidak terlibat langsung dalam aksi saling dorong, namun konteks pertandingan yang sedang memanas menjadi faktor krusial. Presiden FIFA, Gianni Infantino, usai dismissal Almiron, menekankan pentingnya aturan ini. "Hal tentang menutup mulut ini adalah aturan yang sangat, sangat penting bagi kami," kata Infantino kepada SNTV. "Ini tentang rasa hormat. Ini tentang contoh yang harus kita berikan. Jika Anda tidak menyembunyikan apa pun, Anda tidak menutup mulut Anda saat berbicara dengan seseorang. Aturan telah dibuat sangat jelas bagi semua orang."

Namun, penerapan aturan baru ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai keandalannya. Terdapat potensi bagi pemain untuk menyalahgunakan aturan ini guna memprovokasi lawan agar mendapatkan kartu merah. Contohnya, Almiron sendiri tidak terlihat melakukan tindakan agresif, namun Muldur segera bereaksi dan melaporkannya kepada asisten wasit. Akibat pelanggaran ini, Almiron dijatuhi sanksi larangan bermain satu pertandingan, yang membuatnya absen dalam laga terakhir fase grup Paraguay melawan Australia. Sanksi ini bisa saja lebih berat jika terbukti ada unsur ujaran kebencian.

Perlu dicatat bahwa aturan penegakan larangan menutup mulut ini bersifat "opt-in," yang berarti setiap kompetisi berhak memilih apakah akan menerapkannya atau tidak. Hingga saat ini, aturan tersebut baru diimplementasikan di Piala Dunia. Kompleksitas dalam konsistensi penerapan dan potensi penyalahgunaan aturan ini menimbulkan keraguan apakah akan diadopsi oleh liga-liga domestik di masa mendatang. Fenomena ini menunjukkan bagaimana FIFA terus berupaya menciptakan lingkungan sepak bola yang lebih adil dan transparan, meski tantangan dalam implementasinya tetap ada.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All