Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal JAMA Network Open mengungkap temuan menarik mengenai hubungan antara pola makan dan risiko demensia. Penelitian ini menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan dengan potensi inflamasi yang lebih rendah dikaitkan dengan penurunan risiko demensia, terutama pada individu yang memiliki biomarker risiko penyakit Alzheimer.
Para peneliti secara khusus meneliti hubungan antara kualitas diet dan risiko demensia. Fokus utama studi ini adalah pada phosphorylated tau di treonin 217 atau p-tau217.
P-tau217 diidentifikasi sebagai salah satu biomarker berbasis darah yang paling akurat untuk deteksi dini penyakit Alzheimer. Dengan mempertimbangkan biomarker ini, peneliti dapat menguji lebih dalam asosiasi antara pola makan dan perkembangan kondisi neurodegeneratif.
Studi ini melibatkan analisis data dari sejumlah peserta yang tidak disebutkan secara spesifik jumlahnya. Namun, fokusnya adalah pada mereka yang menunjukkan tingkat p-tau217 yang lebih tinggi dalam darah mereka. Tingkat p-tau217 yang meningkat sering kali menjadi indikator awal adanya plak amiloid dan perubahan tau di otak, yang merupakan ciri khas penyakit Alzheimer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengikuti pola makan yang lebih sehat, dengan penekanan pada bahan makanan yang minim memicu peradangan, memiliki risiko lebih rendah untuk mengembangkan demensia dibandingkan dengan mereka yang pola makannya cenderung pro-inflamasi.
Pola makan rendah inflamasi umumnya kaya akan buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, ikan, dan lemak sehat seperti minyak zaitun. Sebaliknya, pola makan tinggi inflamasi cenderung banyak mengonsumsi makanan olahan, gula tambahan, lemak jenuh, dan daging merah.
Para ilmuwan berhipotesis bahwa peradangan kronis di otak dapat mempercepat proses degenerasi saraf yang terkait dengan demensia. Oleh karena itu, dengan mengurangi peradangan melalui diet, diharapkan dapat melindungi kesehatan otak dalam jangka panjang.
Penelitian ini memberikan bukti lebih lanjut mengenai pentingnya nutrisi dalam menjaga kesehatan kognitif. Meskipun studi ini berfokus pada individu dengan biomarker risiko Alzheimer, temuan ini dapat menjadi pengingat umum bagi masyarakat luas untuk mengadopsi kebiasaan makan yang lebih baik demi pencegahan demensia.
Para peneliti menekankan perlunya studi lebih lanjut untuk memahami mekanisme pasti bagaimana pola makan memengaruhi risiko demensia. Namun, temuan awal ini memberikan dasar yang kuat untuk rekomendasi diet yang berfokus pada pengurangan inflamasi sebagai strategi pencegahan demensia.
Pentingnya deteksi dini Alzheimer melalui biomarker seperti p-tau217 juga menjadi sorotan dalam studi ini. Kombinasi antara biomarker yang akurat dan pemahaman tentang faktor gaya hidup seperti diet, membuka jalan baru dalam upaya penanganan dan pencegahan penyakit yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.











