Kebiasaan seseorang dalam mengekspresikan emosi di masa dewasa seringkali berakar pada pola pengasuhan dan pengalaman masa kecil. Sebuah tinjauan terhadap tujuh pola masa kecil mengindikasikan bagaimana pengalaman tersebut dapat membentuk individu menjadi lebih tertutup dalam menunjukkan perasaan.
Salah satu pola yang diidentifikasi adalah ketika anak tidak diizinkan atau merasa tidak aman untuk mengekspresikan emosi negatif. Lingkungan yang menuntut anak untuk selalu terlihat baik atau menekan emosi tertentu dapat mengajarkan mereka untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Hal ini dapat berlanjut hingga dewasa, di mana mereka kesulitan mengungkapkan kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan.
Pola kedua berkaitan dengan kurangnya responsivitas orang tua terhadap ekspresi emosi anak. Jika tangisan, kegembiraan, atau ketakutan anak sering diabaikan atau dianggap berlebihan, anak akan belajar bahwa emosi mereka tidak penting atau tidak layak untuk diperhatikan. Akibatnya, mereka mungkin enggan berbagi perasaan dengan orang lain di kemudian hari.
Selanjutnya, pola pengasuhan yang sangat kritis atau menghakimi juga berkontribusi pada ketertutupan emosional. Anak yang sering dikritik atas perasaan atau reaksinya akan mengembangkan rasa malu atau takut terhadap ekspresi emosional. Mereka belajar bahwa menunjukkan emosi dapat berujung pada penolakan atau kritik.
Pola keempat adalah ketika orang tua sendiri menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola emosi. Anak yang tumbuh di lingkungan di mana orang tua mereka sering meledak dalam kemarahan, menarik diri, atau menunjukkan ketidakstabilan emosional dapat merasa cemas atau bingung tentang cara mengekspresikan emosi mereka sendiri. Mereka mungkin memilih untuk tidak menunjukkan emosi sama sekali untuk menghindari kekacauan.
Pengalaman trauma atau kehilangan di masa kecil yang tidak ditangani dengan baik juga dapat menjadi faktor signifikan. Jika anak tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai setelah mengalami kejadian traumatis, mereka cenderung memblokir emosi mereka sebagai mekanisme pertahanan diri. Ini bisa menjadi cara bertahan hidup yang kemudian terbawa hingga dewasa.
Pola keenam adalah ketika anak diajari bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan. Dalam beberapa budaya atau keluarga, ada penekanan kuat pada ketegaran dan pengendalian diri, di mana emosi dianggap sebagai hal yang harus disembunyikan. Anak-anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai ini mungkin merasa malu jika menunjukkan kerentanan.
Terakhir, pola di mana orang tua menggunakan emosi anak sebagai alat manipulasi atau hukuman. Misalnya, menggunakan ancaman untuk membuat anak berhenti menangis atau menggunakan rasa bersalah untuk mengontrol perilaku. Pengalaman seperti ini dapat membuat anak sangat berhati-hati dalam mengekspresikan emosi, karena mereka takut emosi tersebut akan disalahgunakan.
