Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa jeda minum atau hydration breaks yang diterapkan dalam setiap pertandingan Piala Dunia 2026 murni merupakan keputusan terkait aspek olahraga dan tidak menghasilkan pendapatan tambahan bagi badan sepak bola dunia tersebut. Kebijakan ini bertujuan untuk membantu para pemain mengatasi kondisi cuaca ekstrem yang mungkin dihadapi selama turnamen berlangsung di Amerika Utara.
Jeda selama tiga menit yang disisipkan di pertengahan babak pertama dan kedua setiap pertandingan ini memang mendapatkan respons beragam dari para pemain dan pelatih. Sementara sebagian pihak mengapresiasi upaya menjaga kebugaran pemain, tak sedikit pula yang merasa terganggu, bahkan terdengar suara cemoohan dari sebagian penonton di stadion ketika wasit meniup peluit untuk menghentikan laga sejenak.
Meski demikian, Infantino menekankan bahwa semua perjanjian komersial dan sponsor telah disepakati jauh sebelum kebijakan jeda minum ini ditetapkan. "Tidak ada pendapatan tambahan untuk FIFA karena semua kesepakatan komersial telah ditandatangani jauh-jauh hari. Ini bukan masalah finansial bagi kami. Bagi kami, ini murni masalah olahraga," ujar Infantino, menyangkal anggapan bahwa jeda tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan komersial.
Penerapan jeda minum di setiap pertandingan Piala Dunia 2026 memiliki alasan mendasar untuk menciptakan kondisi kompetisi yang setara bagi seluruh tim yang berpartisipasi. Infantino menjelaskan bahwa dalam sebuah turnamen besar yang berlangsung selama 39 hari, dengan potensi tim bermain hingga delapan pertandingan, momen istirahat singkat sangat krusial bagi pemulihan fisik pemain.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya kesetaraan kondisi di lapangan. "Yang lebih penting bagi kami adalah memastikan bahwa semua tim, di setiap pertandingan, bermain dalam kondisi yang sama. Sangat sulit diterima jika seorang pelatih memiliki kesempatan untuk memengaruhi jalannya pertandingan dengan melakukan penyesuaian taktik semata-mata karena suhu lebih panas, sementara di pertandingan lain dengan suhu sedikit lebih rendah, pelatih yang sama tidak memiliki kesempatan yang sama," papar Infantino.
Oleh karena itu, untuk menjamin keadilan dan mencegah adanya keuntungan tak terduga yang timbul dari perbedaan kondisi cuaca, jeda minum diberlakukan secara seragam di setiap laga. Para manajer dan staf pelatih diperbolehkan untuk berdiskusi taktik dengan pemain mereka selama jeda tersebut, yang secara tidak langsung turut memberikan kesempatan untuk penyegaran strategi.
Meskipun FIFA mengklaim tidak ada keuntungan finansial langsung dari jeda minum, fakta di lapangan menunjukkan potensi pendapatan iklan yang signifikan. Berdasarkan analisis para ahli, slot iklan berdurasi 30 detik di siaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat melalui Fox Sports dapat mencapai 200.000 hingga 300.000 dolar AS. Angka ini melonjak drastis menjadi 750.000 dolar AS untuk pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah Amerika Serikat dan pada fase-fase akhir turnamen.
Jika jeda minum dimanfaatkan secara optimal oleh stasiun televisi untuk menyiarkan iklan, potensi pendapatan yang dihasilkan diperkirakan bisa melebihi 250 juta dolar AS hanya di wilayah Amerika Serikat. Fenomena ini memicu perdebatan apakah jeda yang awalnya digaungkan sebagai solusi masalah kesehatan pemain justru berpotensi menjadi sumber pemasukan baru yang tersembunyi bagi pemegang hak siar.
Di beberapa negara, stasiun televisi memang terlihat menyiarkan iklan komersial selama jeda minum berlangsung, meskipun hal ini tidak terjadi di Inggris. Situasi ini semakin memperkuat pandangan bahwa jeda minum, terlepas dari niat awalnya, secara inheren membuka peluang ekonomi bagi pihak ketiga.
Namun, FIFA tetap teguh pada pendiriannya bahwa fokus utama kebijakan ini adalah aspek olahraga dan kesetaraan kompetisi. Keputusan untuk mengimplementasikan jeda minum di setiap pertandingan merupakan bagian dari upaya FIFA untuk beradaptasi dengan tantangan baru dalam penyelenggaraan turnamen sepak bola berskala global, termasuk dalam hal kondisi lingkungan dan fisiologis pemain.
Dukungan terhadap jeda minum ini juga datang dari berbagai pihak yang melihatnya sebagai langkah proaktif untuk mencegah cedera terkait panas dan memastikan performa terbaik dari para atlet. Di sisi lain, kritik terhadap penghentian permainan yang dirasa mengganggu ritme pertandingan juga menjadi suara yang perlu dipertimbangkan. FIFA tampaknya akan terus mengevaluasi efektivitas dan dampak dari jeda minum ini seiring berjalannya turnamen, sambil tetap menjaga prinsip-prinsip integritas dan keadilan kompetisi.











