Piala Dunia 2026 akan menjadi saksi bisu pergeseran demografi pemain sepak bola yang signifikan. Sejumlah tim peserta, termasuk Maroko yang mencatatkan sejarah dalam pertandingan melawan Brasil, menunjukkan tren yang kian marak: semakin banyak pemain yang membela negara yang bukan tanah kelahiran mereka. Fenomena ini tidak hanya mengubah peta persaingan di lapangan hijau, tetapi juga mencerminkan realitas dunia yang semakin terhubung melalui migrasi dan mobilitas global.
Dalam pertandingan Piala Dunia 2026 melawan Brasil, Maroko menurunkan sebelas pemain yang tidak lahir di negara Afrika Utara tersebut. Momen ini menjadi cerminan dari sebuah tren yang semakin mengemuka di ajang sepak bola terbesar dunia ini. Berdasarkan data yang dihimpun dari daftar tim resmi yang diserahkan kepada FIFA, hanya delapan dari 48 tim peserta yang tidak diperkuat pemain kelahiran luar negeri. Curacao, sebagai contoh, hanya memiliki satu pemain asli pulau Karibia tersebut dalam skuad 26 pemainnya, mayoritas lahir di Belanda karena statusnya sebagai bagian dari Kerajaan Belanda. Qatar pun membawa pemain dari sepuluh negara berbeda, mencakup benua Afrika, Eropa, hingga Amerika Selatan.
Tren ini bukan hanya fenomena baru di Piala Dunia 2026. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, persentase pemain kelahiran luar negeri sudah mencapai 16,5%. Lonjakan signifikan terjadi pada edisi 2026, di mana pemain kelahiran luar negeri diperkirakan mencapai lebih dari 23% dari total 1.248 pemain. Hal ini seiring dengan bertambahnya jumlah peserta dari 32 menjadi 48 tim. Fenomena ini pun menciptakan situasi unik, bahkan memecah belah keluarga. Empat pasang saudara kandung tercatat membela tim nasional yang berbeda, seperti Desire dan Guela Doue (Prancis dan Pantai Gading), Nico dan Iñaki Williams (Spanyol dan Ghana), Harry dan John Souttar (Australia dan Skotlandia), serta saudara tiri Derrick Luckassen dan Brian Brobbey (Ghana dan Belanda). Sebelumnya, kisah serupa terjadi pada saudara tiri Jerome dan Kevin Prince Boateng yang membela Jerman dan Ghana di dua edisi Piala Dunia berbeda, bahkan sempat saling berhadapan.
Fenomena ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk perubahan aturan FIFA dan pola migrasi global. Profesor Gijsbert Oonk, seorang sejarawan Belanda dan pakar studi migrasi dari Erasmus University, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah cerminan dari dunia yang berubah. "Hampir 4% populasi dunia tinggal di negara yang bukan tempat kelahiran mereka. Angka ini bahkan lebih tinggi pada pekerja berketerampilan tinggi dan atlet elite," ujarnya.
Sejarah perpindahan negara dalam sepak bola sebenarnya sudah ada sejak lama. Sebelum FIFA secara resmi menetapkan aturan kewarganegaraan pada tahun 1960-an, seorang pemain bebas memilih negara mana pun untuk diwakili. Contoh paling menonjol adalah Luis Monti, gelandang Argentina yang pernah membela negaranya di Piala Dunia 1930 dan kemudian memenangkan trofi bersama timnas Italia di Piala Dunia 1934. Ia menjadi satu-satunya pemain yang pernah tampil di final Piala Dunia untuk dua negara berbeda.
Perubahan krusial terjadi pada tahun 1962 ketika FIFA mengeluarkan kriteria kelayakan yang mengharuskan pemain memiliki kewarganegaraan negara yang ingin mereka wakili. Sejak itu, pemain tidak dapat mewakili lebih dari satu negara sepanjang karier mereka. Namun, aturan ini sempat mengalami beberapa penyesuaian. Pada tahun 2004, FIFA mulai mengizinkan pemain yang pernah membela negara di level usia muda untuk berpindah ke negara lain di level senior, asalkan memiliki "keterkaitan jelas" seperti memiliki orang tua atau kakek-nenek yang lahir di negara tersebut, atau telah tinggal di sana minimal dua tahun. Kini, persyaratan masa tinggal meningkat menjadi lima tahun, dan seorang pemain diizinkan berganti kewarganegaraan meskipun telah memainkan maksimal tiga pertandingan internasional senior atau sebelum usia 21 tahun di tim negara asal.
Perubahan aturan ini memberikan keuntungan tersendiri bagi negara-negara dengan diaspora yang tersebar luas, seperti Maroko. Pada dekade 2010-an, Maroko secara proaktif melakukan pencarian bakat di negara-negara Eropa dengan komunitas Maroko yang besar, seperti Prancis, Belanda, dan Belgia. Upaya ini terbukti membuahkan hasil, menjadi salah satu faktor kunci di balik pencapaian bersejarah Maroko sebagai negara Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia di Qatar 2022. Dalam laga perempat final yang ikonik, dua dari tiga pencetak gol Maroko, Hakim Ziyech dan Achraf Hakimi, lahir di Belanda dan Spanyol. "Ini adalah kisah tentang sebuah negara yang telah belajar untuk tidak memperlakukan diasporanya sebagai hal sampingan, melainkan sebagai bagian penting dari sistem sepak bola nasionalnya," ujar Dr. Myriam Cherti, peneliti senior di COMPAS.
Keputusan untuk membela suatu negara bagi para pemain ini seringkali merupakan kombinasi dari pertimbangan profesional, emosional, dan bahkan politik. Harapan keluarga atau peluang internasional yang lebih besar dapat menjadi faktor penentu. Ibrahim Mbaye, misalnya, yang telah membela Prancis di berbagai level usia muda, secara mengejutkan memilih untuk memperkuat Senegal, negara kelahiran ibunya. "Saya tidak akan pernah menyesal memilih untuk bermain untuk Senegal karena itu adalah keputusan dari hati," tuturnya.
Sementara itu, jalur naturalisasi juga menjadi pilihan bagi sebagian pemain. Pepe, mantan bek Real Madrid, menolak tawaran dari Brasil pada tahun 2006 demi membela Portugal, negara tempat ia tinggal dan bermain sejak 2001. Ia bahkan harus menghadapi negara kelahirannya di Piala Dunia 2010. "Saya tidak pernah menyesal menjadi warga Portugal. Saya melihat menghadapi Brasil seperti pertandingan lainnya: saya akan selalu membela Portugal," tegasnya.
Fenomena ini juga terkadang terjadi secara tak terduga. Roberto Lopes, bek kelahiran Dublin dengan ayah asal Tanjung Verde, pernah mengabaikan pesan dari manajer timnas Tanjung Verde melalui LinkedIn karena mengira itu adalah spam, sebelum akhirnya menyadari kesalahannya dan menjadi salah satu pahlawan dalam hasil imbang tanpa gol Tanjung Verde melawan Spanyol di Piala Dunia 2026.
Namun, perpindahan kewarganegaraan dalam sepak bola tetap menjadi topik sensitif. Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, pernah mengkritik negara-negara yang mempercepat proses naturalisasi pemain, terutama dari Brasil, dan menyebutnya sebagai "bahaya nyata" jika Piala Dunia didominasi oleh tim berisi banyak pemain Brasil. Publik pun kerap menunjukkan reaksi keras. Diego Costa, pemain kelahiran Brasil yang memilih membela Spanyol, kerap dicemooh oleh penonton di Brasil saat Piala Dunia 2014.
Perdebatan mengenai isu ini terus bergulir. Sebagian pihak berargumen bahwa penikmat sepak bola sulit mengidentifikasi diri dengan tim nasional yang terlalu bergantung pada pemain kelahiran luar negeri. Namun, di sisi lain, ada pandangan yang menekankan hak individu dan mata pencaharian pemain. Dr. Cherti menyimpulkan bahwa sepak bola tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang lebih luas. "Tim nasional bukan lagi sekadar cerminan populasi di dalam perbatasan. Semakin menjadi cerminan migrasi, sejarah, dan mobilitas global," pungkasnya. Piala Dunia 2026 diprediksi akan semakin mempertegas realitas ini, di mana batas-batas kelahiran semakin kabur di atas lapangan hijau.











