Perundingan Damai AS-Iran Dimulai: Nasib Selat Hormuz Jadi Kunci Solusi

Emanuel

Amerika Serikat dan Iran secara resmi memulai perundingan damai di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, pada Minggu (21/6/2026). Pertemuan krusial ini dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf, dengan agenda utama mencari solusi jangka panjang untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir empat bulan. Perundingan ini berlangsung di tengah ketegangan yang meningkat terkait status Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.

Perbedaan pandangan mengenai Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi ini. Iran mengklaim telah menutup jalur strategis tersebut sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Namun, pihak militer Amerika Serikat menegaskan bahwa lalu lintas kapal komersial di selat tersebut masih berjalan normal. Klaim yang kontradiktif ini menunjukkan betapa rumitnya situasi yang dihadapi para perunding.

Sebelumnya, kedua negara telah menyepakati gencatan senjata selama 60 hari untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi proses negosiasi. Gencatan senjata ini menjadi elemen penting dalam upaya meredakan eskalasi di kawasan. Namun, Korps Garda Revolusi Iran pada Sabtu lalu mengumumkan penutupan Selat Hormuz, disertai peringatan keras bahwa kapal-kapal yang melintas akan menghadapi risiko keamanan yang signifikan.

Langkah Iran menutup Selat Hormuz berpotensi mempersulit implementasi kesepakatan sementara yang telah dimediasi oleh Pakistan. Kesepakatan ini, yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu lalu, dirancang sebagai fondasi untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang Timur Tengah selama beberapa bulan terakhir.

Wakil Presiden AS JD Vance tiba di Swiss pada Minggu pagi setelah mendarat di Pangkalan Udara Emmen bersama istrinya, Usha Vance. Vance menyatakan harapan besarnya agar perundingan ini dapat menghasilkan kemajuan signifikan, tidak hanya dalam penyelesaian isu program nuklir Iran, tetapi juga dalam pelaksaaan gencatan senjata di Lebanon.

Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan resmi telah dimulai pada Minggu pagi, melibatkan sejumlah mediator internasional. JD Vance memperkirakan proses negosiasi ini akan berlangsung selama beberapa hari, mengingat banyaknya isu yang masih menjadi sengketa dan memerlukan pembahasan mendalam.

Ketegangan antara AS dan Iran, serta dampaknya pada regional, semakin meningkat pasca Garda Revolusi Iran menuduh Israel melanggar komitmen gencatan senjata melalui serangan di Lebanon. Iran menilai tindakan Israel tersebut bertentangan dengan kesepakatan yang sebelumnya telah mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat.

Di sisi lain, Komando Pusat AS menyajikan data yang berbeda, menyatakan bahwa sebanyak 55 kapal dagang telah melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, dengan total muatan lebih dari 17 juta barel minyak yang ditujukan untuk pasar global. Washington dengan tegas menegaskan komitmennya untuk menjamin keamanan jalur pelayaran dan memastikan aktivitas perdagangan tetap berjalan tanpa hambatan.

Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyatakan bahwa tidak akan ada biaya yang dikenakan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, baik selama masa gencatan senjata maupun setelahnya. Namun, ia membuka opsi untuk menerapkan biaya lintasan apabila proses perundingan damai gagal mencapai kesepakatan yang memuaskan. Pernyataan ini memberikan gambaran tentang potensi imbalan finansial yang bisa menjadi insentif bagi Iran untuk bekerja sama.

Sementara itu, dari pihak Iran, penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohammad Mokhber, melontarkan tuduhan bahwa Amerika Serikat belum sepenuhnya menjalankan poin-poin awal dalam kesepakatan damai, terutama terkait penghentian konflik di seluruh front. Ia menekankan bahwa arus energi dari Timur Tengah akan terus terganggu selama implementasi kesepakatan belum terwujud secara nyata.

Meskipun demikian, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menyampaikan nada optimisme mengenai peluang kerja sama ekonomi, asalkan seluruh pihak mematuhi semangat perjanjian. Paknejad mengungkapkan bahwa Iran telah menyiapkan ratusan peluang investasi dan berbagai skema kontrak menarik bagi para mitra internasional.

Delegasi Iran di Swiss dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, serta perwakilan dari bank sentral dan sektor energi. Sementara itu, tim negosiasi AS diperkuat oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang juga menjabat sebagai menantu Presiden Trump. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan AS dalam perundingan ini.

Pakistan, sebagai mediator utama dalam proses ini, juga mengirimkan delegasi tingkat tinggi yang terdiri dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Syed Asim Munir. Kehadiran mereka diharapkan dapat berperan penting dalam menjembatani perbedaan pandangan yang masih ada antara Washington dan Teheran.

Terlepas dari diberlakukannya gencatan senjata, bentrokan di Lebanon dilaporkan masih terus terjadi. Otoritas pertahanan sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 20 orang tewas akibat serangan Israel pada Sabtu, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata mulai berlaku. Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya situasi keamanan di lapangan dan tantangan dalam menegakkan kesepakatan damai.

Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas aksi kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Pemerintah Israel juga menegaskan bahwa mereka tidak menjadi bagian dari kesepakatan antara Iran dan AS, dan akan tetap mempertahankan pasukannya di wilayah Lebanon yang saat ini diduduki. Sikap Israel ini menambah kompleksitas dinamika konflik di kawasan.

Sementara itu, sebuah survei yang dilakukan oleh Universitas Ibrani Yerusalem menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel menilai Iran memperoleh keuntungan lebih besar dari kampanye militer gabungan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Hampir 90% responden survei menilai tujuan perang belum tercapai sepenuhnya, dan kurang dari sepertiga responden percaya pada klaim keberhasilan besar yang disampaikan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak awal Maret, termasuk tenaga medis, perempuan, dan anak-anak. Di sisi lain, otoritas Israel melaporkan sedikitnya 32 tentara dan empat warga sipil tewas dalam pertempuran melawan Hizbullah. Data korban jiwa dari kedua belah pihak menggambarkan skala tragedi kemanusiaan yang terjadi di wilayah tersebut.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All