Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite tidak serta-merta cocok untuk semua jenis kendaraan bermotor. Keputusan untuk menggunakan Pertalite sebaiknya mempertimbangkan kesesuaiannya dengan rasio kompresi mesin kendaraan. Hal ini penting demi menjaga performa mesin dan mencegah potensi kerusakan jangka panjang.
Menurut Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), saat ini belum ada kebijakan resmi yang membatasi penggunaan Pertalite untuk kendaraan tertentu. Namun, BPH Migas mengingatkan bahwa Pertalite memiliki kadar oktan 90. Angka oktan ini menjadi indikator penting dalam menentukan apakah sebuah mesin kendaraan dapat berjalan optimal dengan BBM tersebut.
Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menekankan bahwa tidak semua kendaraan ideal menggunakan Pertalite. Ia menjelaskan bahwa kendaraan dengan rasio kompresi mesin di bawah 11:1 umumnya direkomendasikan untuk menggunakan BBM dengan oktan lebih rendah, sementara mesin dengan rasio kompresi di atas 11:1 lebih cocok dengan BBM beroktan lebih tinggi. “Ini bukan soal pembatasan, tapi lebih kepada kecocokan mesin,” ujar Tulus Abadi.
Lebih lanjut, Tulus Abadi memberikan contoh spesifik. Kendaraan roda dua, misalnya, mayoritas memiliki rasio kompresi yang tidak terlalu tinggi, sehingga Pertalite bisa menjadi pilihan. Namun, untuk kendaraan roda empat, terutama yang memiliki teknologi mesin modern dengan rasio kompresi tinggi, penggunaan Pertalite bisa berisiko. “Kalau dipaksakan, bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah pada mesin,” tambahnya.
Pentingnya pemilihan BBM yang sesuai dengan spesifikasi mesin juga diungkapkan oleh Anggota Komisi VII DPR RI, M. Nasir. Ia menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam memilih BBM. Jika kendaraan memang didesain untuk menggunakan BBM beroktan lebih tinggi, sebaiknya tidak memaksakan diri menggunakan Pertalite demi menghemat biaya. “Meskipun harganya lebih murah, namun jika merusak mesin, tentu akan lebih boros dalam jangka panjang,” jelas M. Nasir.
BPH Migas sendiri terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan BBM yang tepat. Tujuannya adalah agar masyarakat memahami pentingnya kesesuaian antara spesifikasi mesin kendaraan dengan jenis BBM yang digunakan. Dengan demikian, performa kendaraan dapat terjaga, usia pakai mesin lebih panjang, dan emisi gas buang pun dapat ditekan secara optimal.
