Federasi sepak bola dunia kini mulai bersatu, menggeruduk markas FIFA. Keputusan kontroversial FIFA, termasuk rencana menjual warisan komersialnya dan penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar, telah memicu gelombang protes yang baru saja mencapai puncaknya.
Di tengah gelombang perlawanan ini, kantor pusat Afrika FIFA yang baru diresmikan pada Juli lalu di Salé, Maroko, menjadi simbol ironis. Kota yang dulunya merupakan kawasan kelas pekerja yang kumuh, kini bertransformasi menjadi pusat megaproyek mewah. Pertumbuhan pesat kota ini, yang populasinya meningkat tiga kali lipat dalam 40 tahun, mencerminkan ambisi besar yang diusung oleh FIFA, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang praktik yang dijalankannya.
Jonathan Liew, dalam tulisannya, menyoroti betapa lambatnya respons dunia sepak bola terhadap FIFA. Meskipun telah lama ada indikasi praktik yang meragukan, baru sekarang para pemimpin federasi merasa perlu untuk bersatu dan menantang kepemimpinan FIFA. Lokasi markas baru FIFA di Salé, sebuah kota yang mengalami perubahan drastis dan seringkali kontroversial, seolah menjadi metafora bagi situasi FIFA saat ini: sebuah entitas yang menghadapi perlawanan sengit, namun mungkin terlambat untuk melakukan perubahan fundamental.
Keputusan-keputusan FIFA yang dianggap menjual aset komersialnya, ditambah dengan kontroversi seputar Piala Dunia Qatar, telah menjadi pemicu utama kemarahan yang kini memuncak. Perlawanan ini, meskipun datang terlambat, menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa arah yang diambil FIFA perlu dikoreksi demi masa depan sepak bola global.
