Assen, Belanda – Pembalap Gresini Racing, Alex Marquez, mengungkapkan bahwa ia sempat berpikir untuk menghentikan balapan MotoGP Belanda di Sirkuit Assen akhir pekan lalu. Adik dari Marc Marquez ini bahkan tidak menyangka bisa menyelesaikan seluruh 26 lap balapan, sebuah pengakuan yang menyoroti betapa beratnya perjuangan yang ia hadapi di tengah pemulihan cedera dan insiden di sirkuit legendaris tersebut.
Perjalanan Alex Marquez di Assen memang sudah diwarnai berbagai tantangan sejak awal. Ia datang ke Belanda dengan harapan sekadar bisa menyelesaikan balapan, setelah sebelumnya terpaksa menarik diri dari GP Ceko (19-21 Juni) usai sesi kualifikasi. Keputusan tersebut diambil karena cedera yang ia alami di Catalunya masih belum pulih sepenuhnya, menghambat performa dan kenyamanan saat mengendarai motor.
Penderitaan Alex semakin bertambah saat sesi latihan bebas pada Jumat sore di Assen. Sebuah kecelakaan di tikungan empat mengakibatkan luka lecet cukup parah pada lengan kirinya. Insiden ini tentu saja menguji mental dan fisik pembalap asal Spanyol itu, mengingat ia sudah berjuang keras untuk kembali bugar.
Meskipun demikian, Alex menunjukkan semangat juang yang patut diacungi jempol. Pada balapan Sprint hari Sabtu, ia berhasil finis di posisi ke-13. Namun, performa yang lebih kompetitif justru ia tunjukkan pada balapan utama hari Minggu. Alex mampu menguntit di belakang rombongan pembalap papan atas yang melibatkan Pedro Acosta, kakaknya Marc Marquez, dan Francesco Bagnaia untuk sebagian besar jalannya balapan.
Drama mulai terjadi menjelang akhir balapan. Dua pembalap yang berada di depannya, Pedro Acosta dan Francesco Bagnaia, harus mengakhiri balapan lebih awal karena masalah teknis atau insiden. Situasi ini secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi Alex Marquez, membukakan jalan baginya untuk merangsek ke posisi yang lebih baik.
Setelah kedua pesaing itu mundur, Alex Marquez terlibat pertarungan sengit dengan juara bertahan Marc Marquez dan Fabio Di Giannantonio. Puncak kekacauan terjadi saat Di Giannantonio melakukan manuver menyalip yang keliru terhadap Marc Marquez di tikungan terakhir. Kesalahan perhitungan Di Giannantonio ini justru menguntungkan Alex Marquez secara instan, memberinya dua posisi sekaligus. Meskipun Di Giannantonio berhasil merebut kembali satu posisi dalam beberapa lap terakhir, perolehan posisi yang tak terduga inilah yang meyakinkan Alex untuk tidak menyerah dan menyelesaikan balapan.
"Hal pertama adalah saya berhasil menyelesaikan balapan, itu juga merupakan tujuan utama saya, untuk menyelesaikan balapan dan menyelesaikan 26 lap, yang bagi saya cukup berat," ujar Alex Marquez setelah balapan, mencerminkan kelegaan dan rasa syukurnya. Ia mengakui bahwa awalnya ia tidak optimis bisa menuntaskan seluruh putaran. "Saya tidak menyangka akan menyelesaikan 26 lap. Saya berpikir, ‘Mungkin saya akan melewati lebih dari balapan sprint dan, tergantung posisi saya, saya akan berhenti’."
Namun, kondisi fisiknya yang membaik seiring balapan berjalan dan strategi cerdiknya membuat ia bertahan. "Tapi kemudian saya merasa lebih baik, saya mencoba bertahan sepanjang balapan, berusaha untuk tidak membuat ban belakang terlalu panas karena saya menggunakan kompon lunak, dan mencoba mengaturnya dengan sangat baik," jelasnya. Bantuan dari rombongan di depannya juga berperan penting. "Slipstream dari semua grup di depan saya sangat membantu saya untuk tidak membuat ban belakang terlalu panas dan tetap tenang."
Alex Marquez juga merasa beruntung dengan insiden yang menimpa pembalap lain. "Kemudian, saya sangat beruntung karena ada beberapa pembalap yang terjatuh atau mengalami masalah teknis dan semua itu, dan saya memulihkan banyak posisi," tambahnya. Ia mengakui bahwa ritme balapannya jauh lebih baik dari yang diperkirakan. "Jauh lebih baik, ritme dan segalanya, daripada yang kami harapkan. Tapi memang benar, menjelang akhir, saya berkata ‘Oke, saya akan berhenti’. Tapi kemudian saya melihat posisi dan berkata ‘Oke, saya akan mencoba menyelesaikan balapan saja’."
Meski berhasil finis, Alex mengakui ada tantangan baru ketika ia kehilangan referensi visual dari grup pembalap di depannya. "Itu tidak membantu saya karena, di belakang, saya merasa sangat nyaman dengan grup itu," jelasnya. "Kemudian ketika saya sendirian lagi, saya berkata ‘Di mana referensinya?’" Tanpa slipstream dan referensi, Alex kesulitan untuk mempertahankan ban dan fisiknya. "Saya tidak bisa lagi menghemat ban belakang dan berada di slipstream di bagian cepat. Tapi bagaimanapun, saya berhasil finis. Saya tidak bisa mempertahankan posisi dari Diggia [Fabio Di Giannantonio] di lap terakhir karena saya sudah habis, secara fisik, tapi itu tidak apa-apa."
Perjalanan Alex Marquez di Assen adalah bukti nyata dari ketahanan seorang pembalap di tengah cobaan. Meskipun tidak meraih podium, menyelesaikan balapan di bawah tekanan cedera, insiden, dan kelelahan, serta mampu memanfaatkan kekacauan di lintasan, adalah pencapaian tersendiri. Hasil ini tidak hanya menambah poin penting bagi Gresini Racing, tetapi juga menjadi dorongan moral bagi Alex untuk terus pulih dan bersaing di level tertinggi MotoGP. Dengan jeda balapan setelah Assen, diharapkan Alex Marquez bisa memanfaatkan waktu untuk memulihkan diri sepenuhnya dan kembali dengan performa maksimal di seri-seri berikutnya.











