Dinamika geopolitik di Timur Tengah kini memasuki babak baru setelah konflik yang melibatkan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Meski perang tersebut mengubah konstelasi kawasan, para pengamat menilai peran Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan tidak akan digantikan oleh China maupun India.
Kesimpulan tersebut mengemuka dalam konferensi tahunan Middle East Institute di Singapura pada pertengahan Juni lalu. Diskusi bertema dampak geopolitik pasca perang Iran ini menyoroti bahwa pengaruh kekuatan baru lebih mengandalkan diplomasi dan ekonomi.
Direktur Eksekutif Observer Research Foundation Middle East, Kabir Taneja, menegaskan bahwa jangan berharap muncul aktor eksternal yang menjalankan peran keamanan serupa AS. Menurutnya, Timur Tengah kini menuju keseimbangan kekuatan yang jauh lebih kompleks.
Bagi China, konflik Iran menjadi ujian berat bagi strategi keterlibatan mereka. Selama ini, Beijing sukses memperluas pengaruh lewat investasi dan perdagangan, termasuk saat memediasi hubungan Arab Saudi dan Iran pada 2023. Namun, pendekatan ekonomi tersebut menghadapi tantangan besar saat kawasan dilanda gejolak militer.
Jonathan Fulton dari Zayed University mencatat bahwa stabilitas adalah kunci bagi strategi China. Meski demikian, Beijing mulai menunjukkan keinginan untuk terlibat lebih dalam dalam urusan keamanan. Hal ini terlihat dari serangkaian pembicaraan tingkat tinggi yang dilakukan Menteri Luar Negeri Wang Yi sejak awal Maret.
Peneliti senior di Stimson Center, Yun Sun, menekankan bahwa China tidak berencana mengerahkan pasukan atau melakukan intervensi militer. Beijing lebih memilih peran sebagai fasilitator diplomasi. Ia membedakan posisi fasilitator dengan penjamin keamanan yang memikul tanggung jawab atas pelaksanaan kesepakatan.
Di sisi lain, India memilih jalur yang berbeda dengan mempertahankan otonomi strategis. New Delhi tidak memandang Timur Tengah sebagai blok tunggal, melainkan membangun hubungan bilateral yang erat dengan berbagai pihak, termasuk negara Teluk, Israel, dan Iran.
Kabir Taneja menyebut hubungan India dengan Uni Emirat Arab sebagai bukti nyata meningkatnya keterlibatan tersebut. Kerja sama ekonomi kedua negara terus berkembang pesat. Namun, India dipastikan tidak akan mengambil alih peran keamanan Barat karena keterbatasan geografis dan fokus mereka pada tantangan di kawasan sendiri.
Perang Iran yang dipicu serangan AS dan Israel ke Teheran telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan mengguncang pasar global. Situasi ini memaksa banyak negara untuk melakukan diversifikasi kemitraan. Alih-alih berpihak pada satu blok, negara-negara di Timur Tengah kini menavigasi hubungan yang lebih cair dan pragmatis.
Kehadiran China dan India di kawasan bukan untuk mengisi kekosongan militer yang ditinggalkan Barat. Mereka hadir sebagai mitra ekonomi dan diplomatik yang menawarkan alternatif di tengah realitas politik Timur Tengah yang terus berubah.











