Sunday, 9 August 2026
BREAKING
BERITA

Penelitian UB Ungkap Hubungan Ritual Pesugihan Gunung Kawi dan Kesehatan Mental, Picu Debat

Oleh Emanuel August 9, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengenai praktik ritual pesugihan di Gunung Kawi dan kaitannya dengan kesehatan mental dilaporkan telah memicu kontroversi. Temuan awal dari studi ini menuai reaksi, termasuk bantahan dari pihak pengelola situs ziarah legendaris tersebut.

Penelitian yang digagas oleh tim mahasiswa UB ini berupaya menggali lebih dalam fenomena ritual pesugihan yang kerap dikaitkan dengan Gunung Kawi, Jawa Timur. Fokus utama studi adalah untuk menganalisis potensi hubungan antara praktik ritual tersebut dengan kondisi kesehatan mental para pelakunya. Hipotesis awal penelitian ini mengindikasikan adanya korelasi yang perlu dikaji lebih lanjut.

Namun, hasil awal penelitian ini ternyata tidak disambut baik oleh semua pihak. Pengelola situs ziarah Gunung Kawi memberikan tanggapan tegas, membantah temuan dan interpretasi yang dihasilkan oleh para peneliti. Pihak pengelola menegaskan bahwa praktik yang ada di Gunung Kawi memiliki makna spiritual dan budaya yang mendalam, serta tidak serta-merta dapat dikaitkan secara simplistis dengan isu kesehatan mental.

Salah satu poin yang diangkat dalam penelitian tersebut adalah dugaan bahwa individu yang melakukan ritual pesugihan mungkin memiliki kerentanan tertentu terkait kesehatan mental. Hal ini didasarkan pada observasi awal dan wawancara yang dilakukan oleh tim peneliti. Namun, bantahan dari pengelola menekankan bahwa anggapan tersebut merupakan generalisasi yang keliru dan mengabaikan konteks sosial serta keyakinan yang berkembang di masyarakat.

Juru Bicara Pengelola Gunung Kawi, Bapak Edi, menyatakan, “Kami sangat menyayangkan adanya penelitian yang terkesan menyudutkan dan tidak memahami esensi dari kegiatan yang ada di sini. Gunung Kawi adalah tempat sakral bagi banyak orang, dan ritual yang dilakukan didasari oleh keyakinan dan harapan, bukan semata-mata karena masalah kejiwaan.” Pernyataan ini disampaikan pada tanggal 15 Mei 2024.

Tim peneliti dari UB, yang dipimpin oleh Saudara Budi Santoso, menjelaskan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk memahami berbagai dimensi dari praktik ritual pesugihan, termasuk aspek psikologisnya. “Kami tidak bermaksud untuk menghakimi atau mendiskreditkan siapapun. Penelitian ini adalah upaya ilmiah untuk membuka diskusi yang lebih luas mengenai fenomena yang ada di masyarakat,” ujar Budi Santoso dalam sebuah kesempatan wawancara pada 16 Mei 2024.

Debat antara peneliti dan pengelola situs ziarah ini menunjukkan kompleksitas isu yang melibatkan keyakinan spiritual, budaya, dan kesehatan mental. Pihak-pihak terkait diharapkan dapat terus menjalin dialog konstruktif untuk mencapai pemahaman yang lebih komprehensif dan objektif mengenai praktik ritual pesugihan di Gunung Kawi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp