Friday, 10 July 2026
BREAKING
DUNIA

Mundurnya Hong Myung-bo: Setelah Kegagalan Piala Dunia 2026, Presiden Lee Serukan Penyelidikan

Oleh Yohanes June 29, 2026 2 weeks lalu 0 komentar

Seoul, Korea Selatan – Hong Myung-bo telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala tim nasional sepak bola putra Korea Selatan menyusul kegagalan tim melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026. Keputusan ini datang di tengah gelombang kritik publik yang meluas, bahkan mendorong Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung untuk menyerukan penyelidikan menyeluruh atas performa mengecewakan tim di turnamen tersebut.

Pengunduran diri Hong Myung-bo diumumkan dalam konferensi pers di Meksiko pada Minggu (Waktu setempat), sehari setelah harapan Korea Selatan untuk lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik pupus. Sebelumnya, tim Taegeuk Warriors masih memegang secercah harapan untuk melaju ke babak berikutnya, namun hasil pertandingan tim lain pada Sabtu secara definitif mengakhiri perjalanan mereka.

Dalam pernyataannya, Hong Myung-bo menyampaikan permintaan maaf tulus kepada para penggemar sepak bola Korea. "Kami tidak berhasil memberikan hasil yang diharapkan para penggemar," ujarnya, seraya menegaskan bahwa "tanggung jawab penuh berada pada saya sebagai pelatih kepala." Ia juga menambahkan bahwa meskipun ia meninggalkan tim nasional, ia tidak akan meninggalkan dunia sepak bola Korea sepenuhnya dan akan terus mendukung tim dari lubuk hati.

Timnas Korea Selatan, yang menempati peringkat ke-32 dalam peringkat FIFA putra dan dipimpin oleh bintang Tottenham Hotspur Son Heung-min, mengakhiri perjalanan Piala Dunia mereka dengan catatan dua kekalahan dan satu kemenangan. Mereka finis di posisi ketiga Grup A, di bawah Meksiko yang berperingkat 15 dan Afrika Selatan yang berperingkat 60. Kekalahan 0-1 dari Afrika Selatan pada Kamis menjadi pemicu utama memanasnya kritik.

Meski finis ketiga di Grup A, tim Korea Selatan sejatinya memiliki peluang berkat aturan baru yang diperkenalkan pada Piala Dunia edisi ini yang memperluas peserta dari 32 menjadi 48 tim. Aturan tersebut memungkinkan delapan tim peringkat ketiga terbaik dari fase grup untuk melaju ke babak gugur. Namun, pada akhirnya, perhitungan poin dan selisih gol dari grup lain menutup pintu bagi mereka.

Kekecewaan publik terhadap performa tim dan kepemimpinan Hong Myung-bo begitu besar. Kritik tajam tak hanya datang dari media, tetapi juga dari kelompok penggemar garis keras. Klub penggemar resmi tim nasional, Red Devils, bahkan mengeluarkan pernyataan pada Senin yang menyerukan Hong untuk "berlutut di hadapan seluruh bangsa dan meninggalkan dunia sepak bola selamanya," sebuah indikasi betapa dalamnya luka yang dirasakan para pendukung.

Presiden Lee Jae Myung tidak tinggal diam melihat situasi ini. Melalui unggahan di platform X, Presiden Lee menyatakan bahwa ia merasakan "bukan hanya kebingungan tetapi keheranan mutlak atas hasil yang tidak terduga." Ia secara tersirat menyoroti masalah struktural dalam tubuh organisasi sepak bola Korea, menyebut bahwa kegagalan awal tim "tampaknya merupakan kegagalan organisasi dan personel."

Lebih lanjut, Presiden Lee Jae Myung secara tajam mengkritik proses seleksi, menulis, "Ketika favoritisme dan kronisme lebih diutamakan daripada kompetensi dalam memilih seorang komandan, hasilnya dapat diprediksi seperti api membakar kertas." Pernyataan ini secara langsung mengarah pada kontroversi seputar penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih kepala.

Penunjukan Hong Myung-bo ke posisi pelatih kepala pada tahun 2024 memang telah menuai kritik keras sejak awal. Sebagai seorang mantan bek, Hong adalah pahlawan nasional yang memimpin Korea Selatan sebagai kapten hingga mencapai babak semifinal yang bersejarah di Piala Dunia 2002. Namun, rekam jejak kepelatihannya kurang meyakinkan; saat ia memimpin tim pada tahun 2014, mereka gagal melampaui babak grup dan bahkan tidak memenangkan satu pertandingan pun.

Banyak penggemar sepak bola mengkritik penunjukan kembali Hong pada 2024 sebagai tindakan "penjaga lama" di Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) yang memberikan jabatan penting kepada teman mereka. Kritik ini muncul setelah KFA dilaporkan mengabaikan beberapa kandidat asing yang telah menjalani proses penyaringan ketat. Hong sendiri mengakui bahwa "menerima pekerjaan itu bukanlah pilihan yang mudah." Ia menambahkan, "Saya tidak bisa mengatakan setiap keputusan adalah keputusan yang tepat, tetapi saya dapat memberitahu Anda bahwa saya telah membuat setiap keputusan dengan mempertimbangkan sepak bola Korea."

Situasi semakin tegang dengan adanya ancaman keamanan. Kepolisian Korea Selatan mengumumkan bahwa mereka memantau ancaman keamanan di Bandara Internasional Incheon dan lokasi lainnya, menyusul ancaman pembunuhan yang diunggah secara daring terhadap Hong Myung-bo saat ia dijadwalkan kembali ke Korea pada akhir pekan. Insiden ini mencerminkan tingginya emosi dan kekecewaan yang melanda publik Korea Selatan.

Dengan mundurnya Hong Myung-bo dan seruan Presiden Lee untuk penyelidikan, masa depan sepak bola Korea Selatan kini berada di persimpangan jalan. Pertanyaan besar menggantung tentang arah kepemimpinan KFA, proses seleksi pelatih, dan bagaimana tim akan membangun kembali kepercayaan publik menjelang kompetisi internasional berikutnya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait