Seekor monyet liar dilaporkan membuat kehebohan di pemukiman warga Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu (17/6/2026). Hewan primata yang diduga berasal dari kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango itu nekat turun gunung dan masuk ke salah satu rumah warga, bahkan sempat memasuki area dapur. Kejadian ini memicu kepanikan sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab satwa liar tersebut meninggalkan habitatnya.
Peristiwa tak biasa ini pertama kali diketahui oleh Yudi Irwanda, pemilik rumah di RT 01 RW 01 Desa Cikaret. Saat sedang beraktivitas di rumah pada pagi hari, Yudi melihat ada pergerakan mencurigakan di dekat dinding rumahnya. Penasaran, ia memeriksa dan mendapati seekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berada di area tersebut.
Monyet tersebut menunjukkan perilaku agresif saat didekati oleh Yudi. Diduga karena tertarik oleh aroma makanan, hewan liar itu kemudian bergerak menuju area dapur rumah Yudi. Mengetahui situasi yang semakin mengkhawatirkan, Yudi segera bertindak cepat. Ketika monyet itu masuk ke kamar mandi yang lokasinya berdekatan dengan dapur, Yudi segera menutup dan mengunci pintu kamar mandi dari luar.
"Pemilik rumah awalnya sedang beres-beres, lalu melihat ke pinggir tembok ada bayangan turun ke bawah. Pas dicek, ternyata ada kera," ujar Ade Feri, Komandan Regu Posko VI Sukaraja Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sukabumi, mengutip detiktravel. Ade menambahkan bahwa Yudi langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak pemadam kebakaran setelah berhasil mengamankan monyet di dalam kamar mandi.
Petugas pemadam kebakaran yang menerima laporan segera meluncur ke lokasi untuk melakukan evakuasi terhadap monyet tersebut. Berdasarkan pengamatan dan perilaku monyet yang masih liar serta agresif, petugas menduga kuat bahwa hewan tersebut bukanlah hewan peliharaan yang lepas. Kemungkinan besar, monyet ini berasal dari habitat alami di sekitar kawasan Gunung Gede.
Ade Feri menjelaskan dugaan utama mengenai penyebab monyet tersebut turun ke pemukiman warga. "Dugaan kami dia dipisahkan atau diusir dari kelompoknya. Otomatis dia jadi keluyuran sendirian. Karena lapar dan mencium aroma makanan dari perkampungan manusia, dia cenderung mendekati sumber makanan itu," terangnya. Terpisah dari kelompoknya, hewan ini kemungkinan mencari sumber makanan untuk bertahan hidup, dan aroma dari permukiman manusia menjadi daya tarik tersendiri.
Kawasan Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu taman nasional yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk berbagai jenis primata seperti monyet ekor panjang. Namun, seiring waktu, interaksi antara satwa liar dan manusia di area sekitar taman nasional terkadang tak terhindarkan. Perubahan tutupan lahan, gangguan habitat, atau faktor kelaparan bisa mendorong satwa liar untuk mencari sumber daya di luar kawasan konservasi.
Fenomena monyet turun gunung dan masuk ke permukiman warga bukanlah hal yang sepenuhnya baru di wilayah sekitar kaki gunung seperti Gunung Gede. Hal ini seringkali menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan meminimalkan gangguan terhadap habitat satwa liar. Edukasi kepada masyarakat mengenai cara bersikap yang benar ketika bertemu satwa liar juga sangat krusial untuk mencegah insiden yang membahayakan kedua belah pihak.
Setelah berhasil dievakuasi oleh petugas pemadam kebakaran, monyet ekor panjang tersebut tidak langsung dilepasliarkan sembarangan. Hewan itu kemudian diserahkan kepada komunitas pecinta satwa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan memastikan pelepasliaran dilakukan di lokasi yang tepat.
"Sudah dirilis, dilepas sama rekan komunitas satwa di daerah Cikidang," pungkas Ade Feri. Penyerahan kepada komunitas pecinta satwa ini dilakukan untuk memastikan bahwa monyet tersebut dapat kembali ke habitat alaminya dengan aman dan proses adaptasinya berjalan baik. Tindakan ini menunjukkan adanya kolaborasi antara instansi pemerintah dan organisasi masyarakat sipil dalam penanganan satwa liar yang terdesak.
Kejadian di Sukabumi ini kembali menyoroti isu sensitif mengenai konflik antara satwa liar dan manusia. Penting bagi pihak berwenang dan masyarakat untuk terus berupaya mencegah kejadian serupa terulang, misalnya dengan melakukan patroli rutin di area perbatasan hutan, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mengelola sampah yang tidak menarik perhatian satwa, serta menjaga kelestarian habitat alami mereka agar satwa liar tidak terpaksa mencari makan di lingkungan manusia. Keberadaan satwa liar yang sehat di habitatnya merupakan indikator penting kelestarian lingkungan.











