Sekitar 40.000 pekerja di pabrik Hyundai Motor Company di Korea Selatan menggelar aksi mogok kerja besar-besaran pada hari ini, Rabu (19/7/2023). Aksi yang melibatkan mayoritas tenaga kerja ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada lini produksi perusahaan otomotif raksasa tersebut.
Pemicu utama mogok kerja ini adalah tuntutan kenaikan upah yang belum terpenuhi oleh manajemen perusahaan. Serikat pekerja menuntut kenaikan gaji sebesar 5,8%, serta bonus tambahan sebesar 400% dari gaji pokok. Selain itu, para buruh juga menuntut perbaikan kondisi kerja dan jaminanemploi yang lebih baik.
Ketua Serikat Pekerja Hyundai, Kim Jin-ho, menyatakan kekecewaannya terhadap respons perusahaan. “Kami telah berupaya melakukan negosiasi dengan manajemen sejak awal tahun, namun tawaran yang diberikan jauh dari harapan kami. Kami tidak punya pilihan selain melakukan aksi mogok ini demi memperjuangkan hak-hak kami,” ujar Kim Jin-ho dalam orasinya di depan pabrik Hyundai di Ulsan.
Aksi mogok kerja ini tidak hanya dilakukan oleh para pekerja di pabrik perakitan, tetapi juga merambah ke sektor manufaktur komponen penting. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan penundaan pengiriman kendaraan, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Manajemen Hyundai Motor Company mengakui dampak dari aksi mogok ini. “Kami memahami kekecewaan para pekerja, namun kami juga memiliki pertimbangan bisnis yang harus dipatuhi. Kami akan terus berupaya mencari solusi terbaik melalui dialog terbuka dengan serikat pekerja,” kata juru bicara Hyundai, Lee Sang-hoon. Ia menambahkan bahwa perusahaan akan mengevaluasi kembali proposal yang diajukan oleh serikat pekerja.
Mogok kerja ini menjadi pukulan telak bagi Hyundai yang tengah berupaya memulihkan kinerja penjualan pasca pandemi COVID-19. Analis industri memprediksi kerugian finansial yang dialami Hyundai bisa mencapai ratusan miliar won jika aksi mogok ini berlangsung lama. Para pekerja menegaskan akan terus melanjutkan mogok hingga tuntutan mereka dikabulkan sepenuhnya.
