Penggunaan bahan bakar biodiesel B50 pada mesin berstandar emisi Euro4 dinyatakan aman. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana. Pernyataan ini menjawab kekhawatiran publik mengenai potensi dampak negatif penggunaan biodiesel B50 terhadap performa dan ketahanan mesin Euro4 yang umumnya membutuhkan spesifikasi bahan bakar lebih tinggi.
Menurut Dadan Kusdiana, mesin Euro4 memang memiliki standar emisi yang lebih ketat, namun spesifikasi teknisnya telah dirancang untuk mampu mengakomodasi penggunaan bahan bakar biodiesel dengan kadar hingga B50. Hal ini menandakan bahwa teknologi mesin modern sudah siap untuk adaptasi bahan bakar nabati yang lebih ramah lingkungan.
“Mesin Euro4 itu kan ada spesifikasi tersendiri, tapi dia itu sudah siap untuk di B50,” ujar Dadan Kusdiana dalam sebuah kesempatan, seperti dikutip dari pemberitaan.
Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa kesiapan mesin Euro4 terhadap biodiesel B50 tidak terlepas dari perkembangan teknologi otomotif yang terus berinovasi. Standar Euro4 sendiri merupakan regulasi emisi yang diberlakukan untuk membatasi kadar polutan dari kendaraan bermotor, seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat (PM). Untuk memenuhi standar ini, produsen kendaraan perlu merancang mesin yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Penggunaan biodiesel, yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani, telah menjadi salah satu strategi global untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Campuran biodiesel B50 berarti bahan bakar tersebut terdiri dari 50% minyak solar dan 50% biodiesel.
Meskipun demikian, Dadan menekankan pentingnya pemantauan dan evaluasi berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa proses pengujian dan validasi terus dilakukan untuk memastikan bahwa penggunaan biodiesel B50 secara jangka panjang tidak menimbulkan masalah yang tidak terduga pada komponen mesin, sistem pembakaran, maupun sistem emisi pada kendaraan Euro4. Adaptasi ini juga diharapkan dapat mendukung target bauran energi terbarukan nasional.
