Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, angkat bicara mengenai langkah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengambil alih kepemilikan saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebesar 60%. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengelolaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang dikenal dengan nama operasional Whoosh, dan menyempurnakan regulasi perpajakan guna mendorong efisiensi transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Keputusan strategis ini diungkapkan langsung oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan usai pertemuan dengan Badan Pengelola (BP) BUMN. Menurut Luhut, Kemenkeu mengambil alih saham mayoritas tersebut dengan tujuan untuk memberikan mandat yang lebih kuat dalam pengelolaan KCJB. “Kemenkeu ambil alih 60% saham itu, karena kita mau percepat pengelolaan KCJB. Kita mau buat dia jadi lebih efisien,” ujar Luhut di Jakarta, Kamis (23/5/2024).
Luhut menjelaskan bahwa pengambilalihan saham ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan operasional Whoosh berjalan lebih optimal. Selain itu, langkah ini juga berkaitan erat dengan penyempurnaan regulasi perpajakan yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam transformasi BUMN secara keseluruhan. “Kita mau buat dia lebih efisien, dan juga perpajakan yang ada di sana itu kita mau sempurnakan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Luhut menegaskan bahwa strategi ini diharapkan dapat mempercepat proses transformasi BUMN agar menjadi lebih baik dan berdaya saing. Dengan adanya kepemilikan mayoritas oleh Kemenkeu, diharapkan pengambilan keputusan terkait pengelolaan KCJB dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efektif, sejalan dengan tujuan pemerintah untuk memajukan sektor transportasi publik di Indonesia.
