Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amirabdollahian, melakukan panggilan telepon dengan sejawatnya dari Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, pada Minggu (14/1/2024). Pembicaraan ini terjadi di tengah memanasnya situasi di Yaman, di mana pasukan Arab Saudi dan kelompok Houthi saling melancarkan serangan dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam percakapan tersebut, Amirabdollahian menekankan pentingnya dialog dan penyelesaian damai atas konflik yang tengah berlangsung. Ia menggarisbawahi bahwa Iran selalu mendukung solusi politik di Yaman dan berharap negosiasi antara pihak-pihak yang bertikai dapat membuahkan hasil.
Menlu Iran juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi ketegangan di kawasan Teluk Persia, yang dipicu oleh serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal komersial dan militer di Laut Merah. Amirabdollahian menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan perang dan mengupayakan deeskalasi.
Sementara itu, sumber dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengonfirmasi adanya panggilan telepon tersebut. Namun, rincian spesifik mengenai isi pembicaraan dari pihak Saudi tidak dirinci lebih lanjut, selain konfirmasi bahwa kedua menteri luar negeri membahas perkembangan situasi di Yaman dan kawasan.
Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap jalur pelayaran di Laut Merah telah memicu respons militer dari koalisi pimpinan Amerika Serikat. Arab Saudi sendiri, yang terlibat dalam perang sipil Yaman sejak 2015, telah berupaya mencari jalan keluar dari konflik berkepanjangan ini.
Panggilan telepon antara menlu Iran dan Saudi ini dipandang sebagai langkah diplomatik yang signifikan, mengingat peran kedua negara dalam dinamika politik di Timur Tengah. Hubungan antara Iran dan Arab Saudi sempat membaik setelah keduanya menormalisasi hubungan diplomatik pada Maret 2023 di bawah mediasi Tiongkok, namun ketegangan di Yaman tetap menjadi isu krusial yang mempengaruhi stabilitas regional.
