Menakar Relevansi Laudato Si’: Menjaga Bumi Sekaligus Memuliakan Martabat Manusia

Wibowo

Upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup saat ini tidak bisa lagi dipisahkan dari perjuangan menjaga martabat manusia. Pesan mendasar dari ensiklik Laudato Si’ yang ditulis Paus Fransiskus kini menjadi tantangan nyata bagi Gereja Katolik di Indonesia dalam menanggapi krisis iklim yang kian mendesak. Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Antonius Subianto Bunjamin, menekankan bahwa merawat Bumi adalah bentuk nyata dari misi penyelamatan kemanusiaan yang lebih luas.

Dalam wawancara eksklusif, Mgr Antonius Subianto Bunjamin mengupas secara mendalam berbagai tantangan konkret yang dihadapi umat dalam mengimplementasikan nilai-nilai ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa semangat ekologi integral, yang menjadi napas utama Laudato Si’, menuntut perubahan paradigma bagi setiap individu. Bahwa bumi yang rusak tidak hanya berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga secara langsung memiskinkan mereka yang paling rentan.

Krisis iklim yang melanda dunia, termasuk Indonesia, seringkali menghadirkan paradoks. Di satu sisi, ada desakan untuk segera bertindak demi keberlangsungan ekosistem, namun di sisi lain, seringkali muncul kebijakan pembangunan yang justru mengorbankan masyarakat lokal atas nama kemajuan ekonomi. KWI memandang bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral untuk menjembatani kesenjangan ini dengan mengedepankan dialog antara pelestarian alam dan kesejahteraan rakyat.

Menurut Mgr Antonius, menghidupi Laudato Si’ bukan sekadar gerakan menanam pohon atau mengurangi penggunaan plastik semata. Lebih dari itu, ini adalah ajakan pertobatan ekologis yang menuntut keterlibatan aktif umat dalam sistem yang lebih adil. Ia menyoroti pentingnya mengubah pola konsumsi dan gaya hidup yang konsumtif menjadi lebih bersahaja, sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia yang hidup di belahan bumi lain yang sudah lebih dulu merasakan dampak kerusakan lingkungan.

Gereja Katolik di Indonesia melalui KWI terus berupaya melakukan langkah nyata untuk membawa pesan ensiklik ini ke akar rumput. Berbagai program di keuskupan-keuskupan di seluruh Tanah Air mulai diintegrasikan dengan isu-isu ekologis. Hal ini mencakup pengelolaan sampah di lingkungan paroki, penghematan energi, hingga advokasi bagi masyarakat adat yang tanahnya terancam oleh eksploitasi industri yang tidak ramah lingkungan.

Tantangan terbesar yang diakui oleh Mgr Antonius adalah bagaimana menyadarkan umat bahwa krisis lingkungan adalah krisis kemanusiaan. Banyak orang masih menganggap isu lingkungan sebagai urusan teknis atau kebijakan pemerintah semata, bukan sebagai panggilan iman yang mendesak. Padahal, dalam ajaran sosial Gereja, merawat ciptaan adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian kepada Sang Pencipta dan wujud nyata kasih kepada sesama.

Penyelamatan martabat kemanusiaan dalam bingkai Laudato Si’ juga berarti menolak budaya membuang atau budaya konsumerisme. Ketika manusia memperlakukan alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi sesuka hati, manusia sebenarnya sedang merendahkan martabatnya sendiri. Mgr Antonius mengajak umat untuk melihat hubungan antara manusia dan alam sebagai hubungan yang harmonis dan saling bergantung, bukan sebagai relasi dominasi yang destruktif.

Langkah konkret lainnya yang didorong oleh KWI adalah penguatan pendidikan ekologi di sekolah-sekolah Katolik dan lingkungan pendidikan formal lainnya. Dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan sejak dini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap masa depan bumi. Edukasi ini menjadi investasi jangka panjang dalam membangun kesadaran kolektif yang lebih berkelanjutan.

Di tengah situasi global yang sedang menghadapi tantangan perubahan iklim ekstrem, pesan Mgr Antonius menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat. Keterlibatan Gereja dalam isu lingkungan bukan berarti Gereja terjun ke ranah politik praktis, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab etis untuk menjaga rumah bersama. Ia menegaskan bahwa setiap aksi kecil yang dilakukan dengan niat baik akan memberikan dampak berantai jika dilakukan secara masif oleh seluruh umat.

Perjalanan untuk mewujudkan visi Laudato Si’ memang bukan perkara mudah dan memerlukan ketekunan. Namun, dengan mengintegrasikan nilai spiritualitas dalam setiap langkah pelestarian lingkungan, Gereja berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi keselamatan bumi dan seluruh penghuninya. Semangat untuk menjaga alam harus terus beriringan dengan semangat untuk merawat martabat kemanusiaan, karena keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Ke depan, KWI berkomitmen untuk terus mendorong diskusi-diskusi reflektif di berbagai lapisan umat, memastikan bahwa pesan ensiklik tersebut tidak hanya berhenti pada dokumen formal. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kelompok lintas iman dan organisasi masyarakat sipil, gereja ingin memperluas dampak gerakan ekologi ini. Upaya menjaga lingkungan kini telah menjadi salah satu prioritas utama dalam misi pastoral yang dijalankan, seiring dengan tuntutan zaman yang semakin mendesak untuk segera melakukan aksi nyata bagi penyelamatan Bumi.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All