Strabismus atau mata juling kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat, seringkali hanya dianggap sebagai masalah penampilan. Padahal, kondisi ini merupakan gangguan medis serius yang dapat berdampak signifikan pada fungsi penglihatan anak, bahkan berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang jika tidak ditangani secara tepat waktu. JEC Eye Hospitals & Clinics menekankan urgensi peningkatan kesadaran publik, khususnya bagi orang tua, mengenai bahaya laten dari mata juling yang sering terabaikan.
Menurut Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group, strabismus adalah kondisi di mana kedua bola mata tidak sejajar, dan dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Lebih dari sekadar masalah estetika, kondisi ini secara langsung memengaruhi kualitas penglihatan. Gangguan ini dapat merampas kemampuan penting seperti persepsi kedalaman atau penglihatan tiga dimensi, menyulitkan anak dalam memperkirakan jarak objek di sekitarnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, strabismus meningkatkan risiko terjadinya ambliopia atau mata malas, sebuah kondisi di mana satu mata tidak berkembang dengan baik.
"Mata juling bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang pasien mendapatkan tata laksana yang sesuai dan hasil yang lebih optimal," tegas Prof. Tjahjono dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 25 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa pada bayi baru lahir, mata yang tampak tidak sejajar terkadang merupakan hal normal karena koordinasi saraf mata yang belum matang sempurna. Namun, jika kondisi ini terus berlanjut setelah bayi berusia enam bulan, orang tua sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter mata.
Deteksi dini merupakan kunci utama dalam penanganan strabismus. Dengan diagnosis yang cepat, dokter dapat mengidentifikasi penyebab pasti dari kondisi tersebut. Beragam faktor dapat menjadi pemicu strabismus, mulai dari masalah pada otot penggerak bola mata, kelainan pada saraf yang mengendalikan gerakan mata, faktor keturunan atau genetik, hingga gangguan refraksi yang tidak terkoreksi seperti rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), atau astigmatisme (silinder).
Gejala strabismus juga memiliki karakteristik unik yang seringkali luput dari perhatian. Prof. Tjahjono menjelaskan bahwa mata juling tidak selalu terlihat secara konstan. Pada sebagian anak, kondisi ini memang tampak terus-menerus. Namun, pada kasus lain, mata juling bisa saja bersifat intermiten atau timbul tenggelam. Kondisi ini kerap muncul hanya sesekali, terutama ketika anak sedang dalam kondisi lelah, mengantuk, sakit, atau kehilangan fokus. Bahkan, ada pula kasus strabismus yang sama sekali tidak terlihat dalam aktivitas sehari-hari dan baru terdeteksi saat anak menjalani pemeriksaan mata komprehensif.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan mata hingga kondisi mata terlihat jelas atau sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak. Penanganan strabismus dimulai dengan pemeriksaan menyeluruh untuk mengidentifikasi akar permasalahannya. Setelah penyebabnya diketahui, dokter akan merancang rencana penanganan yang paling sesuai untuk setiap pasien.
Berbagai metode penanganan strabismus dapat diaplikasikan. Dalam beberapa kasus, penggunaan kacamata dengan resep yang tepat tidak hanya membantu memperbaiki fokus penglihatan, tetapi juga dapat membantu mengoreksi posisi mata. Untuk kondisi yang lebih spesifik, dokter mungkin merekomendasikan terapi penutup mata (patching) pada mata yang lebih kuat untuk merangsang perkembangan mata yang lebih lemah. Terapi penglihatan (vision therapy) juga menjadi salah satu pilihan, dan pada kasus yang memerlukan intervensi lebih lanjut, tindakan operasi dapat dipertimbangkan.
Upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai strabismus tampaknya mulai menunjukkan hasil positif. JEC mencatat adanya peningkatan signifikan dalam jumlah tindakan penanganan strabismus, yaitu sebesar 29 persen sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mengindikasikan bahwa semakin banyak masyarakat yang mulai menyadari bahwa mata juling adalah kondisi medis yang memerlukan penanganan profesional, bukan sekadar masalah kosmetik.
Sebagai bagian dari komitmennya dalam edukasi publik, JEC Eye Hospitals & Clinics secara aktif menjalankan kampanye "Strabismus: From Stigma to Confidence". Kampanye ini disebarluaskan melalui berbagai platform, termasuk media digital, seminar kesehatan mata, podcast, publikasi media, skrining mata gratis, hingga program sosial operasi mata juling gratis. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang strabismus dan pentingnya deteksi dini, tetapi juga untuk membangun kepercayaan diri pada individu yang mengalaminya.
Dedikasi JEC dalam kampanye edukasi ini membuahkan hasil yang membanggakan. JEC Eye Hospitals & Clinics berhasil meraih penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year 2026 untuk kategori Impactful Omnichannel Social Campaign. Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas upaya mereka dalam mengedukasi masyarakat luas mengenai strabismus dan mendorong pentingnya deteksi serta penanganan dini demi penglihatan yang lebih baik.











