Masa Depan Wesley Fofana di Chelsea: Antara Kartu Merah dan Ketidakpastian Strategis

Danu Ilham

Kartu merah yang diterima Wesley Fofana pada laga pamungkas musim menjadi sorotan tajam, bertepatan dengan kegagalan Chelsea memastikan tiket ke kompetisi Eropa. Bek tengah berusia 25 tahun itu, yang didatangkan dengan mahar 70 juta poundsterling pada tahun 2022, harus menerima konsekuensi dari tindakannya menarik kaus Wilson Isidor. Keputusan wasit tersebut membuat Sunderland berhasil mempertahankan keunggulan dan mengamankan tiket Eropa, sekaligus mengubur harapan Chelsea.

Insiden ini menjadi catatan minor lain dalam musim yang penuh gejolak bagi Fofana. Kartu kuning kedua yang diterimanya sesaat setelah Cole Palmer memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 di Stadium of Light, menambah daftar panjang kritik dari para penggemar di akhir musim. Ini merupakan kartu merah kedua bagi Fofana di musim ini dan rekor kedelapan bagi klub di Premier League (total 11 kartu merah di semua kompetisi), dalam sebuah kampanye yang menyakitkan di mana Chelsea harus puas finis di posisi ke-10 klasemen.

Namun, secara internal, Chelsea tidak menunjukkan indikasi bahwa mereka berencana untuk melepas Fofana. Pemain tim nasional Prancis ini, yang tidak masuk dalam skuad Piala Dunia, sejatinya berada di bawah pengawasan ketat seiring upaya Chelsea untuk merampingkan skuad sebelum musim depan di bawah arahan manajer baru, Enzo Maresca. Posisi bek tengah di Stamford Bridge memang sudah cukup padat.

Chelsea berencana untuk mendatangkan setidaknya satu opsi bek tengah berkualitas tinggi, bahkan mungkin tambahan lain tergantung pada pergerakan pemain keluar. Tujuannya adalah menghadirkan pemain yang siap bersaing di Premier League untuk menjadi tandem bagi Levi Colwill, yang dianggap sebagai bek muda menjanjikan. Peran ini sebelumnya sempat diisi oleh Fofana berkat banderol mahalnya, namun kini posisinya tidak lagi terjamin.

Situasi ini mungkin masih bisa diperbaiki, tetapi masa depan Fofana tetap diselimuti ketidakpastian. Ia dituntut untuk dapat meyakinkan Maresca di awal pramusim mendatang.

Sebelumnya, Fofana sempat mendapatkan penilaian tinggi dari mantan manajer, Enzo Maresca. Sumber internal menyebutkan Maresca kerap memuji Fofana secara pribadi, menyatakan bahwa ia "lebih baik dari yang lain". Kecepatan Fofana dianggap krusial bagi skema permainan Chelsea yang mengandalkan garis pertahanan tinggi.

Di bawah kepelatihan Maresca, Fofana sempat membentuk kemitraan yang efektif dengan Colwill. Namun, pemain tim nasional Inggris itu kemudian mengalami cedera lutut berkepanjangan yang membuatnya absen hampir sepanjang musim lalu. Sepanjang kampanye tersebut, rekor pertahanan Chelsea tertinggal jauh dari sang juara, Arsenal, bahkan ketika The Gunners sempat digadang-gadang menjadi kandidat juara pada bulan November.

Terjadi penurunan performa yang cukup drastis di seluruh lini tim setelah kepergian Maresca akibat perselisihan dengan jajaran petinggi klub. Penerusnya, Liam Rosenior, hanya bertahan selama empat bulan. Fofana termasuk dalam kelompok pemain yang tidak terlalu menyukai gaya kepelatihan Rosenior, yang berdampak pada penurunan performanya.

Pada periode yang sama, Chelsea juga memanggil kembali Mamadou Sarr dari masa peminjamannya di Strasbourg untuk bereuni dengan Rosenior. Namun, Sarr justru kesulitan mendapatkan menit bermain, begitu pula dengan Benoit Badiashile, Tosin Adarabioyo, dan Josh Acheampong. Situasi ini terjadi meskipun Colwill sedang absen karena cedera.

Kini, tanpa adanya kompetisi Eropa dan dengan potensi kedatangan bek tengah baru, lini pertahanan Chelsea terlihat semakin sesak. Acheampong dan Colwill dianggap sebagai pemain yang "tidak tersentuh" oleh klub. Hal ini menyisakan Tosin, Badiashile, Trevoh Chalobah, dan Fofana sebagai kandidat potensial untuk dilepas. Sementara itu, Sarr tetap dipandang sebagai pemain yang memiliki potensi besar.

Menariknya, Tosin dan Chalobah hanya memiliki sisa dua tahun kontrak, sebuah situasi yang biasanya memicu negosiasi perpanjangan kontrak atau penjualan di Chelsea. Fofana sendiri masih memiliki sisa tiga tahun kontrak, sedangkan Badiashile empat tahun.

Dalam kasus Fofana, ia datang dengan banderol tertinggi. Berdasarkan aturan akuntansi sepak bola, Chelsea perlu meraup setidaknya 30 juta poundsterling dari penjualannya untuk menghindari pencatatan kerugian. Fofana sendiri tidak secara aktif mencari klub baru, namun riwayat cedera yang pernah dialaminya bisa menjadi hambatan bagi calon pembeli. Meskipun demikian, ia sebagian besar bebas cedera musim lalu, kecuali periode singkat akibat gegar otak setelah benturan dengan kiper Filip Jorgensen.

Pada akhirnya, keputusan besar akan berada di tangan Enzo Maresca, bersama dengan jajaran petinggi klub di Stamford Bridge, dalam upaya merampingkan skuad untuk musim yang tidak akan diisi kompetisi Eropa.

Chelsea menyadari pentingnya menambah kekuatan fisik, kualitas, dan kepemimpinan dalam rekrutmen pemain baru, terutama di posisi bek tengah. Pihak klub masih enggan merinci target spesifik mereka. Namun, beberapa nama telah dikaitkan, seperti Ibrahima Konate sebelum ia bergabung dengan Real Madrid dari Liverpool, dan Murillo dari Nottingham Forest yang dikagumi.

Jan Paul van Hecke juga sempat dikaitkan sebelum kepindahannya ke Tottenham dari Brighton, sementara Maxence Lacroix dari Crystal Palace dilaporkan masuk dalam radar. Selain itu, Chelsea juga berupaya mendatangkan penyerang serbaguna. Beberapa sumber mengindikasikan kesepakatan telah tercapai untuk pemain tim nasional Argentina, Valentin Barco, dari Strasbourg, yang dapat bermain di lini tengah dan bek kiri, meskipun klub belum mengonfirmasi transfer tersebut.

Sementara itu, Marc Cucurella telah bergabung dengan Real Madrid senilai 51,8 juta poundsterling. Ada pula ketidakpastian mengenai masa depan beberapa pemain lain, termasuk Enzo Fernandez dan sebagian besar penyerang klub, dengan pengecualian Joao Pedro yang juga berstatus "tidak tersentuh".

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All