Assen, Belanda – Pembalap andalan, Marc Marquez, mengakui dirinya berada dalam "mode aman" setelah hanya mampu finis di posisi keenam pada Sprint Race MotoGP Assen hari Sabtu. Juara dunia bertahan tersebut, yang sehari sebelumnya sempat menyatakan ketidaksukaannya terhadap sirkuit legendaris Belanda ini karena tingkat risikonya yang tinggi, menegaskan bahwa ia telah mengerahkan 100% kemampuannya, namun tidak dapat berbuat lebih banyak saat ini.
Dalam balapan singkat yang berlangsung intens tersebut, Marquez sejatinya melintasi garis finis di urutan ketujuh. Namun, ia kemudian naik satu posisi ke urutan keenam setelah rekan setimnya di Ducati, Pecco Bagnaia, diganjar penalti atas kesalahan kecil di tikungan terakhir. Hasil ini, meski tidak sesuai harapan para penggemarnya, justru mencerminkan strategi konservatif yang diambil pembalap berjuluk ‘The Baby Alien’ tersebut.
Marquez secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya. "Pagi ini kami mencoba untuk membuat peningkatan, tetapi sekali lagi, kami hanya berada di sekitar posisi ke-7 atau ke-8 bersama beberapa pembalap KTM," ujarnya setelah Sprint Race. "Saya finis ketujuh, hanya saja mereka memberi saya satu posisi karena kesalahan kecil Pecco di chicane terakhir."
Keputusan untuk mengaktifkan "mode aman" bukanlah tanpa alasan. Marquez menjelaskan bahwa di Sirkuit Assen, seorang pembalap perlu memiliki "feeling" yang kuat, dan ia merasa tidak memiliki keyakinan penuh untuk mendorong motornya lebih jauh. "Saya berkendara tidak terlalu buruk, tetapi saya kehilangan terlalu banyak di beberapa titik," katanya. "Dan saya merasa, terutama, tidak nyaman dan tidak konsisten."
Risiko cedera menjadi salah satu faktor utama yang mendasari kehati-hatian Marquez. "Saya sudah melihat kembali tahun lalu, dan saya melihat beberapa kecelakaan tahun ini," tambahnya. "Di sini, kerikilnya menyakitkan. Jadi, Anda harus berhati-hati." Pernyataannya ini merujuk pada insiden mengerikan yang terjadi pada hari Jumat, di mana saudaranya, Alex Marquez, dan rekannya, Fermin Aldeguer, mengalami kecelakaan parah. Aldeguer bahkan harus absen dari sisa acara karena cedera tulang belakang.
Kondisi sirkuit yang menantang ini diperparah dengan dominasi tim lain. Aprilia menunjukkan performa luar biasa dengan mengunci empat posisi teratas dalam sesi kualifikasi, mengukuhkan kekuatan mereka di ‘Cathedral of Speed’. Hanya pembalap VR46 Ducati, Fabio di Giannantonio, yang mampu memecah dominasi RS-GP dengan finis ketiga di Sprint Race.
Marquez mengakui keunggulan rivalnya tersebut. "Kami sudah tahu titik kuat Aprilia, dan kami tahu bahwa sirkuit seperti Belanda, dan akan ada beberapa sirkuit lain dengan tikungan cepat, di mana mereka lebih kuat dari kami," jelasnya. "Kami perlu mengevaluasi sepanjang 22 balapan. Tapi ya, di sini Aprilia lebih kuat dari kami. Namun Diggia dan Pecco melakukan pekerjaan luar biasa karena mereka berkendara di level yang sangat bagus."
Mengenai balapan utama hari Minggu, Marquez tidak memiliki ekspektasi yang jauh berbeda. Ia pesimis terhadap peluangnya untuk menantang Aprilia, bahkan dengan ban belakang medium. "Sama seperti hari ini. Coba finis di posisi ke-7, ke-8, dan itu saja," ujarnya. "Saya tidak menghemat poin. Saya mengerahkan 100%, tetapi saya tidak bisa berbuat lebih banyak sekarang."
"Di sirkuit ini, kami perlu memahami itu," lanjut Marquez, menunjukkan penerimaan terhadap situasinya. "Dan tidak ada frustrasi karena memang ini yang saya harapkan. Jadi, tidak apa-apa." Pandangan realistis ini menunjukkan perubahan mentalitas Marquez, yang kini lebih memilih untuk menjaga diri di sirkuit-sirkuit yang tidak menguntungkannya.
Dampak dari "mode aman" ini terasa pada perolehan poin kejuaraan. Setelah berhasil memangkas 62 poin dari keunggulan Marco Bezzecchi dalam empat balapan sebelumnya, Marquez justru kehilangan dua poin dari pembalap Aprilia tersebut di Sprint Race. Kini, ia tertinggal 42 poin dari Bezzecchi.
Meski demikian, Marquez tidak terlalu memusingkan persaingan gelar juara dunia. "Jika saya berada dalam perebutan kejuaraan, itu adalah hadiah," kata Marquez dengan nada pasrah. "Karena saya tidak melakukan hal yang berbeda. Hanya saja, yang lain melakukan kesalahan, dan tentu saja, saya memenangkan balapan."
"Tapi maksud saya, bagi saya itu sudah berakhir," lanjutnya, merujuk pada ekspektasi awal musimnya. "Jadi, jika ada sesuatu yang datang, itu disambut baik, tetapi ini adalah kenyataan saya. Akan ada beberapa sirkuit yang bisa saya kelola dengan baik. Akan ada beberapa sirkuit yang di masa lalu atau tahun lalu, saya bisa bertahan dengan baik." Ia menyimpulkan bahwa tahun ini, "bertahan berarti benar-benar bertahan. Finis kedelapan, kesepuluh, atau bahkan lebih jauh ke belakang." Situasi ini menggambarkan tantangan berat yang harus dihadapi Marc Marquez di sisa musim ini, terutama di sirkuit-sirkuit yang menuntut risiko tinggi.











