Mahasiswa Unma Sinergi dengan Desa Teja, Rangkai Teori Administrasi dalam Praktik Nyata

Emanuel

MAJALENGKA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Administrasi Publik (AP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Majalengka (Unma) sukses menggelar program kerja "Abdi Desa" (ABDES) yang keenam. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari di Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, ini menjadi ajang pembelajaran multidimensional bagi mahasiswa dan aparatur desa.

Sebanyak 36 pengurus HMPS AP terlibat aktif dalam program ini. Tujuannya adalah untuk menjembatani kesenjangan antara teori administrasi yang dipelajari di bangku kuliah dengan implementasinya di tingkat perangkat desa dan masyarakat. Melalui interaksi langsung, mahasiswa dan aparatur desa bersama-sama mengidentifikasi potensi serta tantangan yang dihadapi desa.

Ketua Umum HMPS AP, Rafi Maulana, menjelaskan esensi dari kegiatan ini. "Mahasiswa Administrasi Publik kami memiliki pemahaman teori yang kuat, sementara perangkat desa memiliki pemahaman mendalam tentang pelaksanaan administrasi di lapangan. Keduanya perlu disinkronisasi," ujar Rafi.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ABDES ini dirancang untuk menciptakan sinergi yang kuat, di mana mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu mereka dan perangkat desa dapat berbagi pengalaman praktis. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme dalam tata kelola pemerintahan desa.

Kolaborasi menjadi kunci utama dalam pelaksanaan ABDES di Desa Teja. HMPS AP berupaya menjalin silaturahmi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Di antaranya adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Perusahaan Hutan Negara (Perhutani), Dinas Pendidikan (Disdik), serta Dinas Kesehatan (Dinkes).

Rafi mengungkapkan, kehadiran Disparbud dan Perhutani sangat relevan mengingat potensi wisata alam dan kelestarian lingkungan hutan yang melimpah di Desa Teja. Keterlibatan kedua instansi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan potensi tersebut menjadi daya tarik yang bermanfaat bagi desa.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga melibatkan seluruh elemen masyarakat desa, mulai dari aparatur desa, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), Karangtaruna, hingga masyarakat umum. Sinergi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam membangun desa yang lebih baik.

Salah satu bentuk kolaborasi yang menyentuh adalah kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis yang bekerja sama dengan Dinkes. Inisiatif ini muncul dari kesadaran akan tantangan akses kesehatan di Desa Teja.

"Akses perjalanan dari Desa Teja ke Puskesmas itu lumayan jauh," ungkap Rafi. "Sehingga kegiatan cek kesehatan gratis ini bertujuan untuk memudahkan para masyarakat yang kesulitan akan akses tersebut, apalagi bagi para lansia."

Selain penguatan kapasitas aparatur desa dan pelayanan masyarakat, ABDES juga menyentuh sektor pendidikan. Mahasiswa HMPS AP menggelar kegiatan mengajar dan meneliti di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Teja. Fokusnya meliputi sistem pembelajaran, sarana prasarana, serta produktivitas program-program yang ada di sekolah tersebut.

Muhammad Fardli, ketua pelaksana kegiatan ABDES Vol. 6, menyoroti keberlanjutan dan dampak internasional dari program ini. Ia bangga menyatakan bahwa kegiatan ABDES telah berlangsung secara berkelanjutan dan bahkan menarik perhatian mahasiswa dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.

"Mahasiswa UiTM datang langsung ke Indonesia untuk belajar bagaimana kegiatan Abdi Desa ini dilaksanakan," papar Fardli. Ia menekankan bahwa kolaborasi semacam ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa Unma tetapi juga menjadi studi kasus yang berharga bagi institusi pendidikan internasional.

Fardli menjelaskan lebih lanjut bahwa melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga merasakan langsung dinamika pengelolaan desa. Pengalaman praktis ini sangat berharga dalam membentuk calon administrator dan manajer yang kompeten.

"Mahasiswa pun ikut tahu bagaimana praktiknya dalam sebuah desa, sehingga menciptakan mahasiswa menjadi calon-calon tata kelola manajerial dan administrator," tambahnya.

Ia menegaskan kembali pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa didorong untuk mampu menganalisis potensi, merumuskan kebijakan, memahami manajerial, serta mencari solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat.

Dampak dari program ABDES ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Desa Teja, tetapi juga oleh para mahasiswa yang terlibat. Mereka mendapatkan pengalaman lapangan yang tak ternilai, memperdalam pemahaman mereka tentang administrasi publik dalam konteks nyata, serta meningkatkan kemampuan soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama tim.

Kegiatan serupa yang telah sukses dilaksanakan sebelumnya menunjukkan komitmen HMPS AP Fisip Unma dalam berkontribusi positif bagi pembangunan desa di Kabupaten Majalengka. Program ABDES ini diharapkan terus berlanjut dan semakin berkembang, menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain untuk melakukan pengabdian masyarakat yang inovatif dan berdampak. Dengan terjalinnya sinergi antara akademisi dan praktisi di tingkat desa, potensi Majalengka dapat terus digali dan dimaksimalkan demi kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All