Tradisi perawatan diri menggunakan lulur berbahan alami ternyata memiliki akar yang kuat dalam warisan budaya Keraton Yogyakarta. Lebih dari sekadar ritual kecantikan, praktik ini mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan kekayaan alam untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.
Di balik keharuman dan khasiat lulur tradisional Keraton Yogyakarta, tersimpan rahasia racikan istimewa yang telah diwariskan turun-temurun. Salah satu kombinasi bahan alami yang menonjol adalah penggunaan bunga chamomile dan jasmine oil.
Menurut Kanjeng Raden Ayu (K.R.Ay.) Maduretno, seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta yang mendalami tradisi perawatan tubuh, chamomile dipilih karena khasiatnya yang menenangkan dan anti-inflamasi. “Chamomile ini sudah lama dikenal untuk meredakan iritasi kulit dan memberikan efek relaksasi,” jelasnya. Sementara itu, jasmine oil dipilih karena aroma khasnya yang dipercaya memiliki efek aromaterapi yang mampu meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres.
Kombinasi kedua bahan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kulit, tetapi juga pengalaman sensorik yang menyenangkan. Tekstur lulur yang halus berpadu dengan wangi bunga yang lembut menciptakan sensasi mewah dan menenangkan saat diaplikasikan. Proses pembuatan lulur ini pun masih dilakukan secara tradisional, dengan mengolah bahan-bahan segar pilihan.
Lebih lanjut, K.R.Ay. Maduretno menambahkan bahwa pemilihan bahan-bahan alami dalam lulur keraton bukan tanpa alasan. “Semua bahan dipilih berdasarkan khasiatnya yang teruji secara turun-temurun dan kesesuaiannya dengan kondisi kulit,” tuturnya. Penggunaan bahan-bahan alami ini memastikan bahwa lulur tidak hanya efektif, tetapi juga aman bagi kulit, bebas dari bahan kimia berbahaya.
Warisan budaya perawatan tubuh ala Keraton Yogyakarta ini terus dijaga kelestariannya. Melalui racikan lulur dengan chamomile dan jasmine oil, tradisi leluhur ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus relevan untuk dihadirkan sebagai pilihan perawatan diri yang alami dan berkhasiat di masa kini.
