Korea Utara melancarkan kecaman keras terhadap latihan militer gabungan yang digelar oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pyong yang menganggap manuver militer tersebut sebagai provokasi dan ancaman serius terhadap kedaulatannya.
Latihan yang diberi nama ‘Freedom Shield’ ini melibatkan sejumlah besar personel militer dari kedua negara, serta mengerahkan berbagai aset tempur strategis. Manajer Umum Departemen Propaganda dan Agitasi Komite Sentral Partai Buruh Korea, Kim Yo Jong, dalam sebuah pernyataan tertulis pada Senin (18/3/2024) mengungkapkan kemarahan rezimnya. Ia secara spesifik menyoroti partisipasi aset-aset strategis AS dalam latihan gabungan tersebut.
Kim Yo Jong juga mengkritik keras kebijakan musuh yang semakin jelas terlihat dalam latihan perang gabungan mereka. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut hanya akan memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea dan tidak akan memberikan kontribusi positif bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa Korea Utara siap untuk mengambil tindakan balasan yang tegas jika diperlukan.
Pernyataan Kim Yo Jong ini muncul sehari setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat memulai latihan militer gabungan tahunan mereka, ‘Freedom Shield’, pada Senin (18/3/2024). Latihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan respons gabungan terhadap berbagai ancaman, termasuk potensi serangan dari Korea Utara. Latihan ini dijadwalkan akan berlangsung selama 11 hari.
Amerika Serikat sendiri menyatakan bahwa latihan ini bersifat defensif dan bertujuan untuk memperkuat aliansi kedua negara dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang di Semenanjung Korea. Namun, Korea Utara secara konsisten memandang latihan semacam ini sebagai persiapan untuk invasi dan seringkali merespons dengan uji coba senjata atau retorika yang keras.
