Sebuah inovasi mengejutkan muncul dari Korea Selatan, di mana sebuah perusahaan menawarkan layanan video kecerdasan buatan (AI) yang mampu ‘menghidupkan’ kembali orang yang telah meninggal. Layanan ini memungkinkan pengguna untuk menciptakan video mendiang orang terkasih mereka seolah-olah masih hidup, dengan biaya sekitar 7 juta Rupiah.
Teknologi AI ini menggunakan rekaman video dan suara dari almarhum untuk menciptakan avatar digital yang realistis. Avatar tersebut kemudian dapat berinteraksi dan berbicara, memberikan ilusi bahwa orang yang dicintai masih hadir. Inisiatif ini diklaim dapat membantu orang-orang yang berduka untuk mengatasi kehilangan mereka, meskipun menimbulkan pertanyaan etis yang mendalam.
Perusahaan pengembang teknologi ini, yang belum disebutkan namanya secara spesifik dalam laporan awal, mengklaim bahwa layanan ini bukanlah sekadar fantasi, melainkan sebuah alat untuk membantu proses penyembuhan emosional. “Kami ingin membantu orang untuk mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya,” ujar salah seorang perwakilan perusahaan, seperti dikutip dari sumber yang ada. Mereka menekankan bahwa tujuan utamanya adalah memberikan kenyamanan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Proses pembuatan video AI ini melibatkan pengumpulan data sebanyak mungkin dari almarhum, termasuk foto, video, dan rekaman suara. Semakin banyak data yang tersedia, semakin akurat dan realistis avatar yang dihasilkan. Teknologi ini kemudian akan memproses data tersebut untuk menciptakan model 3D yang dapat bergerak dan berbicara sesuai dengan karakter asli almarhum. Biaya yang dipatok untuk layanan ini berkisar pada angka yang cukup signifikan, yaitu sekitar 7 juta Rupiah, menjadikannya sebuah pilihan yang tidak terjangkau oleh semua kalangan.
Meskipun menawarkan solusi emosional, layanan ini juga memicu perdebatan sengit mengenai etika penggunaan AI dalam konteks kematian. Beberapa pihak menyuarakan keprihatinan bahwa teknologi semacam ini dapat menghambat proses berduka alami dan menciptakan ketergantungan emosional yang tidak sehat. Di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai cara inovatif untuk menjaga kenangan orang terkasih tetap hidup. Laporan mengenai peluncuran layanan ini pertama kali mencuat pada awal tahun 2024, menandai babak baru dalam aplikasi AI di kehidupan manusia, terutama dalam menghadapi momen-momen paling sulit.
