Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara mengenai kekhawatiran masyarakat terkait penggunaan bahan bakar nabati jenis B50 pada kendaraan bermotor. Menurut ESDM, penggunaan B50 tidak akan mempercepat masa penggantian filter kendaraan.
Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan isu yang beredar di publik. ESDM menegaskan bahwa hasil uji coba dan kajian teknis telah menunjukkan bahwa B50 aman bagi mesin kendaraan dan tidak menimbulkan dampak negatif pada komponen filter.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM), Dadan Kusdiana, menjelaskan bahwa teknologi pencampuran biodiesel pada bahan bakar fosil terus mengalami perkembangan. Ia mengutip hasil uji coba yang dilakukan oleh Balitbang ESDM sendiri di tahun 2019, yang melibatkan berbagai jenis kendaraan dan kondisi operasional. ‘Hasil uji coba kami menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap keausan komponen mesin, termasuk filter,’ ujar Dadan Kusdiana.
Lebih lanjut, Dadan Kusdiana merinci bahwa kualitas biodiesel yang digunakan dalam B50 telah memenuhi standar yang ditetapkan. Standar ini mencakup parameter seperti viskositas, kandungan air, dan stabilitas oksidasi, yang semuanya dirancang untuk memastikan kompatibilitas dengan mesin kendaraan. ‘Kami memastikan bahwa biodiesel yang digunakan sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan spesifikasi yang ditentukan,’ tambahnya.
ESDM juga merujuk pada pengalaman negara lain yang telah lebih dulu mengadopsi campuran biodiesel yang lebih tinggi. Negara-negara tersebut dilaporkan tidak mengalami lonjakan masalah terkait filter kendaraan. Hal ini menjadi bukti empiris bahwa teknologi B50, jika diproduksi dan digunakan sesuai standar, tidak akan menjadi masalah.
Sebagai informasi, B50 merupakan campuran bahan bakar solar dengan 50% minyak sawit (crude palm oil/CPO) yang telah diolah menjadi biodiesel. Program mandatori pencampuran biodiesel ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit dalam negeri.
