Indonesia, khususnya daerah Barus di Sumatra Utara, kini menjadi destinasi incaran para pedagang dari Timur Tengah. Alasan utamanya adalah tingginya permintaan terhadap tanaman kamper, sebuah komoditas berharga yang bahkan disebut dalam kitab suci Al-Qur’an.
Tanaman kamper, yang dikenal dengan aroma khasnya yang kuat, telah lama memiliki nilai ekonomi dan budaya yang signifikan. Bagi masyarakat Arab, kamper bukan sekadar wangi-wangian, melainkan memiliki kegunaan terapeutik dan spiritual.
Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Utara, Amon S. Siahaan, kamper dari Barus memiliki kualitas unggul yang membuatnya sangat dicari. “Kamper Barus ini sudah terkenal dari dulu, bahkan sampai ke Timur Tengah,” ujar Amon kepada wartawan pada 17 Februari 2023 lalu.
Permintaan yang tinggi dari pedagang Arab ini mendorong upaya pelestarian tanaman kamper. BKSDA Sumatra Utara bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat lokal, untuk menjaga kelestarian hutan kamper yang menjadi habitat asli tanaman ini. Luas kawasan hutan kamper di Barus diperkirakan mencapai 40 hektare.
Upaya konservasi ini penting mengingat potensi ekonomi yang ditawarkan oleh kamper Barus. “Bahkan sampai sekarang, kalau kita survei di sana, banyak orang Arab datang ke Barus,” tambah Amon.
Tanaman kamper (Dryobalanops aromatica) ini tumbuh subur di hutan tropis Sumatra. Hasil olahannya, yaitu kamper, memiliki berbagai khasiat. Selain digunakan sebagai pewangi, kamper juga dipercaya memiliki khasiat obat tradisional dan digunakan dalam ritual keagamaan.
Nilai historis dan ekonomi kamper Barus telah terjalin selama berabad-abad, menjadikan komoditas ini sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan sekaligus dimanfaatkan secara berkelanjutan.
