Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI membeberkan temuan krusial mengenai faktor-faktor utama yang mendorong terjadinya kasus bunuh diri di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, masalah dalam lingkup keluarga dan praktik perundungan (bullying) menempati posisi teratas sebagai pemicu yang paling sering diidentifikasi dalam kasus-kasus tersebut.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Dr. Eva Sri Dameria, Sp.P(K), MARS, menyatakan bahwa dimensi psikososial menjadi perhatian serius dalam penanganan kesehatan jiwa. “Kami melihat bahwa persoalan keluarga, seperti konflik, kekerasan dalam rumah tangga, atau disharmoni, menjadi salah satu akar masalah yang sangat signifikan. Selain itu, perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun daring, juga terbukti memberikan dampak psikologis yang mendalam hingga berujung pada tindakan bunuh diri,” ujar Dr. Eva dalam sebuah kesempatan.
Temuan ini menggarisbawahi urgensi intervensi yang tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada lingkungan terdekatnya. Kemenkes menekankan perlunya penguatan ketahanan keluarga dan penciptaan lingkungan yang aman serta suportif bagi anak-anak dan remaja. Program-program pencegahan dan penanganan perundungan yang komprehensif perlu terus digalakkan di berbagai lini, mulai dari keluarga, sekolah, hingga ruang digital.
Lebih lanjut, Dr. Eva juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda awal gangguan kesehatan jiwa. “Seringkali, individu yang mengalami tekanan berat cenderung menarik diri atau menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa. Edukasi publik mengenai pentingnya mendengarkan dan memberikan dukungan kepada orang terdekat yang sedang berjuang sangatlah krusial,” tambahnya. Kemenkes terus berupaya meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan jiwa dan memperkuat jejaring pencegahan bunuh diri di seluruh Indonesia.
