Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan kini menjadi sorotan dunia. Data terbaru dari Copernicus, layanan pemantauan perubahan atmosfer Uni Eropa, menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada emisi kebakaran dan kabut asap yang dihasilkan. Fenomena ini diperparah oleh dampak El Nino yang sangat kuat, menambah kompleksitas penanganan krisis lingkungan tersebut.
Menurut Copernicus, konsentrasi karbon monoksida (CO) di atmosfer akibat kebakaran di Kalimantan telah meningkat drastis. Data yang tercatat pada periode 13-18 September 2023 menunjukkan adanya 30.000 hotspot atau titik api di seluruh Indonesia, dengan sebagian besar terkonsentrasi di Kalimantan. Peningkatan emisi ini tidak hanya berdampak pada kualitas udara lokal, tetapi juga berkontribusi pada polusi udara regional dan global.
Dalam pernyataannya, Copernicus menekankan bahwa El Nino yang kuat turut memperburuk kondisi. Cuaca kering dan panas yang disebabkan oleh El Nino menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap penyebaran api. Hal ini membuat upaya pemadaman menjadi lebih sulit dan memperpanjang durasi kebakaran.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati sebelumnya telah menyatakan bahwa El Nino yang terjadi kali ini merupakan salah satu yang terkuat sejak tahun 2019. “El Nino yang terjadi kali ini di Indonesia diprediksi memiliki intensitas yang sangat kuat, bahkan terkuat dalam empat tahun terakhir sejak 2019,” ujar Dwikorita pada 10 Agustus 2023. Prediksi ini kini terkonfirmasi dengan meluasnya karhutla dan peningkatan emisi yang terdeteksi.
Peningkatan emisi dari kebakaran hutan ini memunculkan kekhawatiran serius terkait dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Kabut asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai masalah pernapasan. Selain itu, emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer turut berkontribusi terhadap perubahan iklim global.
