Tel Aviv dilaporkan murka menyusul kegagalan kampanye lobi yang mereka gelontorkan untuk mempertahankan dukungan publik Amerika Serikat. Upaya besar-besaran yang menelan biaya mencapai Rp26 miliar atau sekitar 1,7 juta dolar AS setiap bulannya ini disebut-sebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Menurut laporan, tingkat kemarahan di kalangan pejabat Israel memuncak setelah menyadari bahwa investasi finansial yang signifikan tersebut belum mampu mengubah sentimen publik di Amerika Serikat sebagaimana yang diinginkan. Kegagalan ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai efektivitas strategi lobi Israel di salah satu sekutu terpenting mereka.
Sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada media bahwa dana yang dialokasikan untuk kampanye tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk advokasi, publikasi, dan upaya mempengaruhi opini publik melalui berbagai saluran. Namun, alih-alih mendapatkan hasil positif, kampanye tersebut justru dinilai tidak efektif dalam mencapai tujuannya.
Perluasan dukungan publik Amerika Serikat menjadi krusial bagi Israel, terutama di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap kebijakan dan tindakannya. Dukungan dari rakyat Amerika Serikat seringkali menjadi penentu bagi kebijakan pemerintah AS, termasuk bantuan militer dan diplomatik.
Kegagalan kampanye ini membuka pertanyaan tentang strategi yang dijalankan dan relevansi pendekatan yang digunakan dalam menghadapi lanskap opini publik yang terus berubah di Amerika Serikat. Para pejabat Israel kini dihadapkan pada tugas berat untuk mengevaluasi ulang strategi mereka dan mencari cara baru yang lebih efektif untuk mengamankan dukungan yang vital bagi kepentingan nasional mereka.
