Jorge Martin, pembalap MotoGP dari tim Aprilia Racing, menyuarakan kekhawatiran serius mengenai kondisi cuaca ekstrem di Sirkuit TT Assen, Belanda, menjelang balapan utama Grand Prix Belanda yang akan digelar pada Minggu. Martin bahkan mengklaim bahwa suhu panas di Assen berpotensi lebih buruk daripada Grand Prix India 2023, di mana ia sempat pingsan setelah menyelesaikan balapan yang menguras tenaga. Ia pun mendesak agar jarak 27 lap yang direncanakan untuk balapan MotoGP hari Minggu dapat dipersingkat jika suhu tinggi tidak kunjung mereda.
Pernyataan Martin ini bukan tanpa dasar. Pada sesi latihan bebas di Assen yang berlangsung pada 26 Juni, suhu ambien tercatat mencapai 36 derajat Celsius dengan kelembapan 40 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Grand Prix India 2023, yang pada hari balapan tercatat 33 derajat Celsius dengan kelembapan 65 persen. Meskipun kelembapan di Assen lebih rendah, suhu yang lebih tinggi memberikan sensasi panas menyengat yang dirasakan langsung oleh para pembalap.
"Jujur, saya tidak ingat pernah merasakan panas atau sensasi seperti ini di atas motor," ujar Martin setelah sesi latihan. Ia menambahkan bahwa ia merasa lebih nyaman balapan di Thailand atau Malaysia, yang meskipun lebih lembap, tidak memberikan sensasi terbakar seperti di Assen. "Di sini saya merasa benar-benar terbakar, wajah saya, tubuh saya," keluh pembalap yang baru saja pindah ke Aprilia ini.
Pengalaman pahit di India pada musim 2023 masih membekas dalam ingatan Martin dan para penggemar MotoGP. Saat itu, Martin berhasil mempertahankan posisi kedua dari gempuran Fabio Quartararo dalam balapan yang sangat intens di Buddh International Circuit. Namun, sesaat setelah melintasi garis finis, ia ambruk dan pingsan akibat dehidrasi dan kelelahan ekstrem. Insiden tersebut menjadi salah satu momen paling dramatis di musim 2023, menyoroti bahaya balapan di kondisi cuaca yang sangat menantang.
Ketika ditanya mengenai perbandingan dengan India, Martin dengan tegas menjawab, "Saya merasa lebih buruk. Mungkin saya tidak ingat India secara persis, tapi saya merasa kurang lebih sama, jujur saja." Ia juga menyoroti dampak suhu panas pada performa di lintasan. "Bahkan dari catatan waktu, Anda bisa melihat kecepatan kami satu setengah detik lebih lambat dibandingkan pagi hari," jelasnya.
Panas ekstrem tidak hanya memengaruhi fisik pembalap, tetapi juga performa motor. Martin merasakan bahwa motornya tidak bekerja optimal. "Anda merasa motornya tidak bekerja, mesinnya tidak bekerja, tubuh tidak benar-benar… setelah dua atau tiga lap berturut-turut, Anda mulai merasakan penurunan, jadi ini sangat sulit," paparnya. Ia bahkan menggambarkan balapan hari Minggu sebagai "balapan bertahan hidup".
Kekhawatiran Martin bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk kesehatan pembalap secara keseluruhan. Ia menyatakan bahwa balapan 27 lap dalam kondisi panas seperti ini "tidak benar-benar sehat." "Saya pikir ini sama untuk semua orang," kata Martin, "tetapi jika kita akan balapan dalam kondisi seperti ini, kita harus sedikit memikirkan situasinya karena saya pikir tidak benar-benar sehat untuk balapan 27 lap seperti ini."
Pandangan Martin ini sedikit berbeda dengan pembalap lain seperti Luca Marini, yang dilaporkan tidak terlalu terganggu oleh panasnya Assen. Namun, bagi Martin, yang dikenal memiliki fisik prima, kondisi ini jelas menjadi alarm serius. Panas berlebih dapat menyebabkan dehidrasi, kram otot, dan penurunan konsentrasi yang drastis, meningkatkan risiko kecelakaan di lintasan berkecepatan tinggi seperti Assen.
Para pembalap memang dituntut untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi kondisi ini. "Saya mencoba mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan makanan, dengan pemulihan dan dengan tidur yang nyenyak karena saya tahu kita harus pulih dengan baik dari hari yang berat seperti ini," kata Martin. Manajemen energi dan hidrasi menjadi kunci utama untuk bisa bertahan dalam balapan yang menguras fisik.
Meskipun demikian, ada sedikit angin segar dari prakiraan cuaca. Diperkirakan pada hari Minggu, suhu di Assen akan sedikit menurun menjadi 30 derajat Celsius, dengan kondisi tetap kering. Suhu 30 derajat Celsius masih tergolong panas untuk balapan MotoGP, namun setidaknya lebih bersahabat dibandingkan 36 derajat Celsius saat sesi latihan. "Tapi sepertinya hari Minggu akan lebih baik, jadi itu bukan masalah besar," harap Martin, menunjukkan sedikit optimisme bahwa perubahan jarak balapan mungkin tidak diperlukan jika ramalan cuaca terbukti akurat.
Situasi ini menempatkan Dorna dan FIM dalam posisi untuk memantau ketat kondisi cuaca menjelang balapan utama. Keselamatan pembalap selalu menjadi prioritas utama dalam ajang MotoGP. Jika suhu ekstrem berlanjut, keputusan untuk mempersingkat jarak balapan atau menerapkan protokol keselamatan lainnya bisa saja diambil, demi menjaga kesehatan dan keselamatan para rider di "Katedral Kecepatan" ini.











