Harapan Vevee, seorang penggemar setia BTS berusia 26 tahun, untuk menyaksikan grup idola K-Pop kesayangannya secara langsung di Jakarta akhirnya kandas pada 9 Juni lalu. Setelah penantian bertahun-tahun, mimpinya berubah menjadi mimpi buruk saat ia justru menjadi korban penipuan tiket konser yang merugikan Rp21,5 juta, setara dengan dua bulan gajinya. Kejadian ini menjadi cerminan pahit dari "perang tiket" yang sengit dan modus penipuan yang kian canggih di tengah tingginya animo penggemar BTS, yang dikenal dengan sebutan ARMY, di Asia Tenggara.
Vevee, yang rela mengambil cuti kerja demi memperebutkan tiket konser dalam Tur BTS Arirang, menghadapi kenyataan pahit bahwa tiket resmi di Ticketmaster telah ludes terjual setelah berjam-jam menanti di depan komputer. Permintaan yang "benar-benar gila" membuatnya putus asa mencari alternatif. Pencarian di media sosial X membawanya pada sebuah akun yang menawarkan empat tiket VIP seharga US$1.200 atau sekitar Rp21,5 juta. Tanpa pikir panjang, ia segera mentransfer sejumlah uang tersebut, hanya untuk menemukan akun tersebut menghilang tak lama setelah transaksi. "Ini mengerikan. Saya sedih banget," ungkap Vevee, menyesali keputusannya yang terburu-buru.
Kisah Vevee bukanlah satu-satunya. Para penipu dengan licik memanfaatkan keputusasaan dan euforia ARMY di seluruh Asia Tenggara yang frustrasi dengan persaingan ketat dalam perburuan tiket. Diperkirakan, kejahatan penipuan tiket konser ini telah meraup lebih dari US$100.000 dari berbagai korban di kawasan tersebut. Modus operandi para penipu bervariasi, mulai dari menyusup ke grup penggemar online dengan menjanjikan akses eksklusif atau harga diskon, hingga menghilang begitu uang berpindah tangan.
Bahkan, sebagian penipu berani menawarkan "surat kuasa" palsu, dokumen yang biasanya digunakan untuk menyerahkan pengambilan keputusan hukum, demi meyakinkan calon korban bahwa tiket yang dijual adalah asli. Taktik ini sudah cukup dikenal hingga pihak berwenang di beberapa negara telah mengeluarkan berbagai peringatan. Namun, desakan untuk menyaksikan idola membuat banyak penggemar tetap menjadi korban.
Gelombang penipuan tiket konser BTS ini melanda sejumlah negara di Asia Tenggara. Di Thailand, anggota parlemen kini tengah menangani pengaduan dari 126 penggemar BTS yang mengaku ditipu oleh tawaran bantuan "mengantre" tiket. Salah satu korban, Juraluk Kunaruk (23), kehilangan 25.000 baht (sekitar US$760) untuk paket VIP palsu. Ia mengaku akun penipu tersebut terlihat kredibel dengan banyak ulasan dan pengikut, serta menawarkan harga yang masuk akal. Juraluk kini berjuang di parlemen Thailand demi mendapatkan kembali uangnya, sembari tetap berharap bisa menyaksikan konser.
Di Singapura, polisi telah menerima setidaknya 62 laporan terkait penipuan tiket konser BTS sejak 1 Juni, dengan total kerugian mencapai lebih dari S$68.000. Merespons kondisi ini, perusahaan e-commerce Carousell bahkan menangguhkan penjualan kembali tiket di platformnya hingga 22 Desember, tanggal pertunjukan terakhir BTS di Singapura. Sementara itu, polisi Malaysia melaporkan telah menerima 28 laporan dari individu yang ditipu dan kini sedang menelusuri "rekening perantara" yang terlibat dalam transaksi ilegal tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di Filipina, di mana Cookie (30), seorang staf layanan pelanggan, menjadi korban. Setelah dua kali gagal mendapatkan tiket resmi, ia beralih ke calo. Meskipun merasa sudah berhati-hati dengan memeriksa akun Facebook penjual, riwayat pendidikan, dan asal-usulnya, Cookie tetap menemui jalan buntu. Penipu memblokirnya di Facebook setelah pembayaran, dan tiket yang diimpikannya tak pernah ia dapatkan. Ia merasa malu dan tidak menceritakan kejadian ini kepada keluarga atau teman dekatnya, menyebutnya sebagai "tindakan putus asa karena saya benar-benar ingin berada di sana."
Tur BTS Arirang, yang dijadwalkan dimulai pada April dan berlangsung hingga 2027, akan menjangkau 34 kota di seluruh dunia. BTS dan label rekaman mereka, Hybe, diperkirakan akan meraup hampir US$2 miliar dari konser, merchandise, lisensi, penjualan album, dan pendapatan streaming. Permintaan tiket di Asia mencapai 15 kali lipat dari ketersediaan, mendorong penyelenggara untuk menambah tanggal konser, termasuk pertunjukan ketiga di Jakarta, Indonesia, dan Bulacan, Filipina. Ini adalah pertama kalinya band tersebut menggelar beberapa pertunjukan di lima negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, dengan harga tiket berkisar antara US$100 hingga US$300.
Bagi ARMY seperti Vevee, yang telah mengikuti perjalanan BTS sejak setahun setelah debut mereka pada 2013, menyaksikan tur comeback di negara sendiri adalah momen yang sangat istimewa. Vevee, yang mengagumi ketulusan ketujuh anggota BTS—RM, Jin, Suga, J-Hope, V, Jimin, dan Jungkook—pernah terbang sendirian ke Bangkok pada 2019 untuk menonton konser terakhir mereka. Pengalaman itu tak terlupakan berkat bantuan sesama penggemar. Tujuh tahun kemudian, untuk konser di Jakarta, ia menabung dan mempersiapkan diri dengan sangat serius. "Di Indonesia, kami tidak hanya berjuang dalam perang tiket," kata Vevee. "Kami berjuang untuk mendapatkan warnet terbaik dan bahkan untuk menyewa ponsel kelas atas. Ini adalah perang di semua lini."
Fenomena "perang tiket" ini juga pernah terjadi pada konser-konser populer lainnya, seperti tur Eras milik Taylor Swift. Oleh karena itu, penggemar mendesak promotor konser Live Nation dan mitra penjualan tiketnya, Ticketmaster, untuk berbuat lebih banyak dalam mencegah penipuan. Ticketmaster, anak perusahaan Live Nation yang menangani penjualan tiket tur BTS di banyak negara, menyatakan telah "meningkatkan upaya melawan calo tiket dan bot dengan teknologi AI baru dan aturan yang lebih ketat." Beberapa langkah yang diambil termasuk verifikasi tiket dengan alamat email penonton dan penolakan masuk bagi pemegang tiket hasil penjualan kembali yang tidak valid. Juru bicara Ticketmaster menekankan agar penggemar "hanya membeli tiket melalui sumber resmi" dan merujuk pada situs web artis untuk informasi yang benar.
Meski demikian, banyak penggemar yang kecewa merasa sulit menahan diri dari apa yang terasa seperti kesempatan terakhir. Vevee sendiri, setelah kegagalannya di penjualan pra-pemesanan dan trauma penipuan, menyusun strategi baru untuk penjualan umum. Ia dan teman-temannya berpencar di seluruh Jakarta, mencoba membeli tiket dari lokasi berbeda, menggunakan koneksi internet dan akun yang berbeda. Usahanya membuahkan hasil, Vevee akhirnya berhasil mendapatkan tiket yang ia impikan. Pengalamannya menjadi pengingat penting akan perlunya kewaspadaan di tengah euforia konser, serta cerminan perjuangan emosional dan finansial yang dihadapi para penggemar setia.











