Suasana Pasar Pagi Asemka di kawasan Tambora, Jakarta Barat, mendadak lebih hidup dan padat saat memasuki akhir Juni 2026. Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, kawasan pusat grosir legendaris ini menjadi destinasi utama bagi masyarakat yang ingin berburu perlengkapan sekolah dengan harga miring. Pantauan di lokasi pada Selasa (30/6/2026) menunjukkan kepadatan pedagang dan pembeli yang memadati area toko hingga sepanjang kolong flyover Asemka.
Berbagai macam perlengkapan sekolah, mulai dari buku tulis, pulpen, pensil, spidol, hingga kebutuhan penunjang seperti rautan, penghapus, dan tipe-x, dijajakan secara melimpah. Tidak hanya toko-toko permanen yang sibuk melayani pelanggan, para pedagang musiman pun turut memanfaatkan momentum tahunan ini untuk menjajakan dagangannya di pinggir jalan, menciptakan dinamika pasar yang unik dan khas di jantung Jakarta.
Ian, salah satu pedagang musiman yang membuka lapak di area tersebut, mengakui bahwa geliat aktivitas di Pasar Asemka memang mulai terasa. Namun, di balik keramaian pengunjung, dia mencatat bahwa daya beli tahun ini terasa sedikit berbeda. Menurutnya, penjualan belum sepenuhnya moncer meski arus kunjungan sudah cukup stabil. Ia berharap tren belanja masyarakat akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring dengan semakin dekatnya hari pertama masuk sekolah.
Dalam praktiknya, Pasar Asemka melayani dua segmen pembeli utama. Pertama adalah para reseller yang datang dari berbagai daerah untuk membeli alat tulis dalam jumlah besar atau partai lusinan guna dijual kembali. Kedua adalah konsumen rumah tangga yang membeli dalam skala eceran, biasanya berkisar antara dua hingga lima pak buku tulis untuk kebutuhan pribadi anak-anak mereka.
Ian mengungkapkan bahwa selera konsumen di pasar ini cukup spesifik, terutama untuk produk buku tulis. Merek Sinar Dunia (SIDU) masih mendominasi pilihan pembeli karena reputasi dan kepercayaannya di mata konsumen. Fleksibilitas dagang memang menjadi kunci bertahan di Asemka. Ian mengaku sudah terbiasa berganti komoditas sesuai musim; saat libur tahun baru ia beralih menjual kembang api, dan ketika musim sekolah tiba, ia sepenuhnya fokus pada alat tulis.
Variasi produk yang ditawarkan di pasar ini juga cukup luas, mencakup barang produksi lokal hingga produk impor. Perbedaan asal barang ini tentu berpengaruh pada harga jual di tingkat konsumen. Sebagai contoh, untuk produk kotak tempat pensil, versi lokal biasanya dibanderol sekitar Rp 35.000, sementara produk serupa dengan kualitas impor bisa mencapai Rp 65.000. Perbedaan harga ini memberikan ruang bagi pembeli untuk memilih sesuai dengan kemampuan anggaran masing-masing.
Di sisi lain, tidak semua pedagang merasakan euforia yang sama. Roni, salah satu pedagang di sana, justru mengeluhkan penurunan omzet yang cukup signifikan, bahkan mencapai 50% dibandingkan periode sebelumnya. Ia menilai kondisi ekonomi nasional yang diliputi ketidakpastian menjadi faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat. Menurut Roni, sektor perdagangan ritel saat ini sedang menghadapi tekanan yang cukup berat, di mana masyarakat cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
Roni sempat mencoba melebarkan sayap dengan merambah pasar digital melalui berbagai platform marketplace. Namun, langkah tersebut ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan. Ia menjelaskan bahwa berjualan secara daring juga menghadapi kendala biaya operasional yang tidak sedikit, mulai dari potongan biaya admin platform yang mencapai 20% hingga biaya per resi sebesar Rp 1.250. Persaingan harga yang ketat di toko daring memaksa pedagang untuk terus mengikuti program promo agar tetap kompetitif, yang pada akhirnya menekan margin keuntungan mereka.
Terlepas dari tantangan yang dihadapi para pedagang, Pasar Asemka tetap menjadi magnet bagi pelanggan setia. Salah satu pengunjung asal Cengkareng, Junaenah, mengaku selalu menyempatkan diri datang ke Asemka setiap libur sekolah tiba. Baginya, perbedaan harga yang ditawarkan di pasar ini sangat membantu meringankan pengeluaran rumah tangga. Junaenah mencontohkan, harga satu pak buku tulis isi sepuluh di Asemka bisa didapatkan dengan harga Rp 35.000, atau setara dengan Rp 3.500 per buku. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan toko alat tulis di dekat rumahnya yang mematok harga Rp 6.000 per buku, atau selisih hampir 50%.
Hal senada juga diungkapkan oleh Deddy, pelanggan setia lainnya yang datang dari kawasan Teluk Gong, Jakarta Utara. Ia secara rutin berbelanja kebutuhan sekolah di Asemka karena perbedaan harga yang cukup mencolok dibandingkan dengan toko buku di sekitar tempat tinggalnya. Sebagai gambaran, satu pak buku tulis isi 50 lembar bisa ia beli dengan harga Rp 48.000 di Asemka, sementara di dekat rumahnya harga serupa bisa mencapai Rp 55.000.
Bagi Deddy, selisih harga tersebut sangat berharga karena alat tulis yang ia beli bukan hanya untuk kebutuhan keluarganya, melainkan juga untuk dibagikan kepada anak-anak yatim di lingkungannya. Ia dengan bangga menyatakan bahwa seluruh dana yang digunakan untuk kegiatan sosial tersebut murni berasal dari gaji pribadinya sebagai sopir di salah satu perusahaan. Deddy merasa bahwa dengan berbelanja di Pasar Asemka, ia bisa memberikan lebih banyak manfaat kepada mereka yang membutuhkan dengan anggaran yang lebih efisien.
Secara keseluruhan, fenomena Pasar Asemka di musim ajaran baru mencerminkan potret ekonomi riil masyarakat di tengah tantangan biaya hidup. Meski pedagang menghadapi tekanan omzet dan ketidakpastian pasar, keberadaan pusat grosir ini tetap menjadi oase bagi orang tua yang ingin memenuhi kebutuhan pendidikan anak dengan harga yang lebih terjangkau. Hingga saat ini, interaksi antara pedagang dan pembeli di Asemka masih menjadi denyut nadi yang tak terpisahkan dari persiapan tahun ajaran baru di Jakarta.











