Jawa Timur Krisis Biosolar: Antrean Mengular di SPBU, Logistik Terancam, Pertamina Tingkatkan Pasokan Darurat

Wibowo

SURABAYA – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biosolar bersubsidi kini menjadi pemandangan umum yang menyusahkan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur. Para pengendara, khususnya sopir truk dan mobil pribadi, terpaksa harus mengantre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang masih memiliki stok, memicu kekhawatiran akan terganggunya mobilitas dan aktivitas ekonomi di provinsi ini. Kondisi ini berpotensi menghambat rantai pasok, meningkatkan biaya operasional bagi sektor logistik, dan pada akhirnya dapat memengaruhi stabilitas harga barang kebutuhan pokok bagi masyarakat luas.

Situasi darurat ini, yang telah berlangsung sejak Rabu (24/6/2026), memuncak pada Kamis (25/6/2026) ketika banyak sopir truk di Surabaya merasakan kesulitan ekstrem untuk mendapatkan Biosolar. Martono, seorang sopir truk kontainer yang kerap beroperasi dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menceritakan pengalamannya mencari Biosolar. "Saya sudah dua hari keliling mencari Biosolar, baru dapat tadi di Aloha, Sidoarjo," keluhnya pada Kamis (25/6/2026) petang. Kesulitan ini bukan tanpa alasan, mengingat harga Biosolar yang hanya Rp 6.800 per liter jauh lebih terjangkau dibandingkan solar nonsubsidi seperti Dexlite yang mencapai Rp 23.000 per liter dan Pertamina Dex seharga Rp 24.800 per liter.

Perbedaan harga yang mencolok ini membuat solar nonsubsidi tidak menjadi pilihan realistis bagi para pelaku usaha logistik. "Tidak mungkin, Mas, pakai solar nonsubsidi karena ongkos perjalanan yang ditanggung hanya cukup untuk Biosolar," tegas Martono, menggambarkan dilema para sopir yang tercekik biaya operasional. Mengganti jenis bahan bakar berarti harus menanggung beban pengeluaran yang berlipat ganda, yang pada akhirnya akan memangkas keuntungan atau bahkan menyebabkan kerugian.

Kesulitan serupa juga dialami Sugianto, warga Surabaya pengguna mobil pribadi berbahan bakar solar, yang harus menempuh perjalanan ekstra ke Sidoarjo untuk mengisi tangki kendaraannya. "Saya kebetulan kemarin ke arah Sidoarjo dan akhirnya bisa membeli di Rest Area Kilometer 754A Tol Surabaya-Gempol," ujarnya, mengindikasikan bahwa masalah ini tidak hanya menimpa kendaraan niaga, tetapi juga masyarakat umum. Menurut sejumlah sopir, fenomena antrean panjang ini telah terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa Timur selama dua hari terakhir, memaksa mereka berpindah-pindah SPBU dan tetap menghabiskan waktu setidaknya satu hingga dua jam dalam antrean.

Situasi ini diperparah dengan adanya pembatasan konsumsi harian Biosolar yang diterapkan oleh PT Pertamina (Persero). Untuk mobil pribadi, kuota harian ditetapkan antara 50-60 liter, sementara mobil penumpang umum maksimal 80 liter per hari. Adapun kendaraan umum angkutan orang dan barang roda enam atau lebih, seperti bus dan truk, dibatasi maksimal 200 liter per hari. Pembatasan ini, meskipun bertujuan untuk pemerataan distribusi, justru dirasakan membebani para sopir yang membutuhkan volume lebih besar untuk operasional sehari-hari, terutama bagi mereka yang menempuh jarak jauh atau mengangkut muatan berat.

Potensi kelangkaan Biosolar ini mulai terasa intens dalam sepekan terakhir, tepatnya sejak Rabu (17/6/2026), yang bertepatan dengan dimulainya pemadaman listrik bergilir di Jawa Timur. Martono menambahkan, "Sejak Kamis minggu lalu, mulai harus keliling ke beberapa SPBU kalau mau isi Biosolar." Korelasi antara dua peristiwa ini menjadi pertanyaan yang sedang dikaji oleh Pertamina, mengingat kebutuhan Biosolar untuk operasional generator set (genset) bisa saja meningkat selama periode pemadaman listrik, menambah tekanan pada pasokan yang ada.

Dampak antrean panjang ini tidak hanya terasa di dalam area SPBU, tetapi juga meluas hingga ke jalan tol. Ajun Komisaris Mulyani, Kepala Unit 2 Satuan Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Jatim, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan personel untuk menangani kepadatan kendaraan di SPBU Rest Area 753B dan 754A Jalan Tol Surabaya-Gempol. Meskipun lalu lintas di dalam rest area bukan sepenuhnya kewenangan PJR, antrean kendaraan yang meluber keluar berdampak signifikan pada kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan tol. "Kami berkoordinasi dengan pengelola rest area untuk segera menginformasikan apabila terjadi kepadatan kendaraan," kata Mulyani, menekankan pentingnya respons cepat untuk mengatur arus kendaraan demi menjaga ketertiban dan keamanan.

Menanggapi situasi yang meresahkan ini, Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa antrean Biosolar memang umumnya terjadi pada awal pekan, yakni Senin hingga Rabu. "Secara alamiah, konsumsi Biosolar memang meningkat pada awal pekan karena mobilitas masyarakat untuk bekerja serta aktivitas distribusi barang dan jasa juga meningkat," ujarnya. Konsumsi harian Biosolar di Jawa Timur sendiri mencapai 7.000-7.500 kiloliter atau setara 7 juta-7,5 juta liter, angka yang menunjukkan betapa vitalnya pasokan ini bagi aktivitas provinsi.

Untuk mengatasi lonjakan permintaan dan mengurangi potensi antrean, Pertamina Patra Niaga telah mengerahkan tambahan mobil tangki. Pasokan ekstra ini difokuskan pada SPBU dengan tingkat penyerapan tinggi, seperti di sekitar pelabuhan, bandara, terminal, pintu masuk jalan tol, area rehat jalan tol, serta jalur nasional antarkota dan antarprovinsi. Khusus di wilayah Surabaya Raya, yang meliputi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, Pertamina menyiapkan tambahan 12 mobil tangki untuk distribusi Biosolar. Mobil tangki tambahan ini beroperasi pada pukul 22.00-12.00 WIB, diharapkan dapat memperkuat distribusi dan secara efektif menekan antrean panjang yang terjadi di siang hari.

Lebih lanjut, Patra Niaga juga aktif berkoordinasi dengan berbagai asosiasi usaha, seperti Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) dan Organda, untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya lonjakan konsumsi Biosolar yang dipicu faktor lain, misalnya peningkatan permintaan barang dan jasa dari dan menuju pelabuhan yang secara langsung berdampak pada naiknya konsumsi BBM. Mereka juga tengah mengkaji secara mendalam korelasi antara pemadaman listrik yang terjadi sepekan terakhir dengan potensi meningkatnya kebutuhan Biosolar untuk operasional genset. "Fokus kami adalah memastikan kebutuhan Biosolar masyarakat terpenuhi dengan baik," pungkas Ahad Rahedi, menegaskan komitmen Pertamina dalam menjaga ketersediaan BBM bersubsidi di Jawa Timur.

Kelangkaan Biosolar di Jawa Timur menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian berkelanjutan dari berbagai pihak. Sementara Pertamina terus berupaya meningkatkan pasokan dan mengidentifikasi akar masalah, masyarakat, khususnya para sopir yang menjadi tulang punggung ekonomi, berharap agar ketersediaan Biosolar dapat segera stabil demi kelancaran roda perekonomian dan aktivitas sehari-hari. Situasi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya manajemen distribusi energi yang efektif serta koordinasi antarpihak untuk mencegah terulangnya krisis serupa di masa depan, memastikan bahwa energi vital ini selalu tersedia bagi seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkannya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All