Amerika Serikat dilaporkan menerima peringatan dari Israel mengenai potensi ancaman pembunuhan terhadap mantan Presiden Donald Trump yang diduga berasal dari Iran. Namun, Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka belum dapat memverifikasi kebenaran informasi tersebut.
Sumber yang memahami masalah ini mengungkapkan bahwa Israel telah menyampaikan kekhawatiran intelijennya kepada pihak berwenang AS. Peringatan ini mencakup detail spesifik mengenai dugaan rencana Iran, namun, CIA menegaskan bahwa mereka belum menemukan bukti konkret untuk mendukung klaim tersebut.
Meskipun Israel telah memberikan informasi intelijen kepada AS, badan intelijen Amerika Serikat tetap bersikap hati-hati. CIA dilaporkan melakukan penyelidikan internal untuk mengklarifikasi validitas ancaman yang disampaikan oleh sekutunya tersebut. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari kedua belah pihak mengenai sifat pasti dari ancaman tersebut maupun tingkat kredibilitasnya.
Pihak intelijen AS, menurut laporan, tidak dapat mengidentifikasi adanya aktivitas yang mengarah pada rencana pembunuhan tersebut. Sikap skeptis ini menunjukkan adanya perbedaan penilaian antara intelijen Israel dan Amerika Serikat terkait ancaman yang dilaporkan. Juru bicara Gedung Putih enggan mengomentari laporan tersebut, menyatakan bahwa pemerintah tidak memberikan komentar mengenai masalah keamanan atau intelijen.
Peristiwa ini terjadi di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran, terutama setelah serangan drone Iran terhadap sasaran di Israel pada April 2024. Serangan tersebut merupakan respons Iran terhadap serangan terhadap konsulatnya di Damaskus, Suriah, yang juga diduga dilakukan oleh Israel.
Meskipun CIA belum dapat memverifikasi ancaman tersebut, peringatan yang datang dari Israel tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah AS, mengingat sejarah panjang hubungan yang kompleks dan seringkali tegang antara kedua negara.
