Jakarta, Berbagai laporan media internasional mengindikasikan ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terbuka menyatakan bahwa Ayatollah Mojtaba Khamenei, putra dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah masuk dalam daftar target pembunuhan. Pernyataan blak-blakan ini disampaikan Katz dalam sebuah wawancara dengan Fox News, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas antara kedua negara yang telah lama berseteru.
Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa Mojtaba Khamenei "sudah ditandai untuk dibunuh," sebuah ancaman langsung yang jarang sekali diutarakan secara eksplisit oleh pejabat tinggi Israel. Ancaman ini datang di tengah panasnya situasi geopolitik di kawasan, di mana Israel dan Iran terlibat dalam persaingan pengaruh yang intens, seringkali melalui proksi di berbagai negara. Pernyataan Katz menggarisbawahi keseriusan Tel Aviv dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai ancaman dari Teheran.
Menteri Pertahanan Israel juga membeberkan beberapa kondisi yang dapat memicu serangan militer Tel Aviv ke Iran. Menurutnya, serangan akan dilancarkan apabila Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menyatakan bahwa proses negosiasi dengan Iran "sudah berakhir" dan berniat untuk melanjutkan serangan. Ini menunjukkan bahwa Israel sangat bergantung pada dukungan dan koordinasi dengan Washington dalam kebijakan militernya terhadap Iran.
Kondisi kedua yang dapat memicu respons militer Israel adalah jika Iran melancarkan serangan terhadap mereka. Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan ragu untuk membalas setiap agresi. "Jika Iran menyerang, akan ada perang ketiga. Situasinya amat jelas," tegas Katz, menggambarkan potensi konsekuensi fatal dari setiap tindakan provokatif. Ia menambahkan, "Israel tidak akan pernah membiarkan rudal Iran yang menyerang dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan. Itu akan terjadi hanya dalam dua hari."
Ancaman tersebut diperkuat dengan skenario spesifik: jika Irak, yang sering dianggap sebagai salah satu wilayah proksi Iran, menembakkan rudal ke wilayah Tel Aviv, Israel akan menyerang Iran dalam waktu dua hari. Ini menunjukkan kesiapan Israel untuk meluaskan cakupan responsnya melampaui batas Iran, menyerang sumber yang dianggap bertanggung jawab atas agresi. Untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan ini, Katz menyatakan telah memberikan perintah kepada IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk mempersiapkan "operasi biru-putih," sebuah kode nama untuk operasi militer yang mengacu pada warna bendera Israel.
Mojtaba Khamenei sendiri adalah sosok yang cukup misterius di panggung politik Iran. Meskipun merupakan putra dari Pemimpin Tertinggi Iran, ia jarang muncul ke publik dan cenderung menjaga profil rendah. Latar belakangnya yang banyak berkecimpung di dunia intelijen juga menambah kesan tertutup pada dirinya, sangat berbeda dengan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang kerap tampil di hadapan umum dan memberikan pidato. Posisi strategisnya sebagai putra Pemimpin Tertinggi dan pengalamannya di bidang intelijen kemungkinan besar menjadi alasan mengapa ia menjadi target penting bagi Israel.
Identifikasi Mojtaba sebagai target potensial ini muncul dalam konteks sejarah panjang ketegangan antara Israel dan Iran. Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik dan secara terbuka saling menganggap sebagai musuh bebuyutan. Israel secara konsisten menuding Iran sebagai ancaman utama terhadap keamanan regional, terutama terkait program nuklir Teheran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di wilayah seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza. Sebaliknya, Iran menuduh Israel melakukan tindakan sabotase dan pembunuhan terhadap ilmuwan nuklarnya.
Pernyataan Katz ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum yang diterapkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Selama pemerintahan Donald Trump, AS telah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) dan menerapkan sanksi ekonomi yang keras, yang diperparah dengan serangkaian insiden di Teluk Persia dan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi yang dituduhkan kepada Iran. Ancaman pembunuhan terhadap tokoh sentral seperti Mojtaba Khamenei dapat menjadi upaya untuk menciptakan disinsentif yang lebih kuat atau memicu destabilisasi di Teheran.
Dampak dari ancaman terbuka seperti ini berpotensi sangat besar. Pembunuhan terhadap seorang tokoh selevel Mojtaba Khamenei, terutama mengingat posisinya sebagai putra Pemimpin Tertinggi, dapat memicu respons balasan yang masif dari Iran, berpotensi menyeret kawasan ke dalam konflik bersenjata skala penuh. Ini tidak hanya akan berdampak pada Israel dan Iran, tetapi juga negara-negara tetangga dan stabilitas pasar energi global. Komunitas internasional kemungkinan akan menyerukan deeskalasi dan menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk situasi yang sudah rentan.
Situasi di Timur Tengah tetap sangat volatil, dengan setiap pernyataan dan tindakan dari kedua belah pihak dapat memicu reaksi berantai yang sulit diprediksi. Ancaman terang-terangan Israel terhadap Mojtaba Khamenei menjadi pengingat suram akan seberapa jauh kedua negara ini bersedia melangkah dalam permusuhan mereka, menempatkan prospek perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut pada posisi yang semakin genting. Dunia menanti dengan napas tertahan, berharap ketegangan ini tidak berubah menjadi konfrontasi militer langsung yang akan membawa dampak buruk bagi seluruh dunia.
