Iran Kembali Lancarkan Serangan Drone ke Basis Milisi Kurdi di Irak

Emanuel

Teheran kembali meningkatkan eskalasi militer di wilayah perbatasan. Rezim Iran dilaporkan meluncurkan serangan udara menggunakan dua pesawat nirawak atau drone ke pangkalan militer Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI) di sub-distrik Degala, Erbil, pada Rabu malam.

Aksi agresif ini merupakan bagian dari rangkaian operasi militer intensif Teheran. Targetnya mencakup markas besar hingga kamp-kamp pengungsian faksi oposisi Kurdi yang tersebar di wilayah otonomi Irak.

Berdasarkan laporan Jerusalem Post pada Kamis (02/07/2026), pihak KDPI telah mengonfirmasi bahwa dua drone tempur tersebut menghantam basis pertahanan mereka. Beruntung, insiden ini tidak memakan korban jiwa karena tidak ada personel milisi Peshmerga yang berjaga di lokasi sasaran.

Ketegangan tidak berhenti di situ. Di wilayah barat Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga melakukan operasi jebakan di kawasan Ghezqapan, dekat kota Piranshahr. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan lima pejuang Kurdi dari faksi KDPI dalam sebuah kontak senjata sengit.

Media lokal Rudaw menyebutkan, serangan ini terus berlanjut meski ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel tampak mereda. Teheran tampaknya sengaja memperluas serangan untuk menekan kelompok oposisi agar tidak bergabung dengan Partai Kehidupan Bebas Kurdistan (PJAK).

PJAK sendiri merupakan faksi bersenjata besar yang memiliki kamp logistik tersembunyi di pedalaman. Wilayah Kurdistan tercatat telah dihantam oleh sedikitnya 865 rudal dan drone sejak akhir Februari lalu. Bahkan, 20 drone di antaranya menyasar kamp pengungsi sipil selama satu bulan terakhir.

Di balik konflik ini, dokumen rahasia mengenai kegagalan rencana intelijen Israel (Mossad) turut terungkap. Israel sempat berupaya memanfaatkan kekuatan militer etnis Kurdi untuk melakukan kudeta di Teheran. Namun, rencana tersebut kandas setelah Presiden AS Donald Trump menggunakan hak veto politiknya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menunjukkan sikap skeptis terhadap draf rencana tersebut. Berbeda dengan petinggi Mossad yang meyakini operasi pelumpuhan Iran bisa sukses, Katz enggan memberikan dukungan terbuka.

Dokumen operasi tersebut menyebutkan bahwa Israel sebenarnya telah berkomitmen menyediakan zona larangan terbang dan payung perlindungan udara bagi kelompok Kurdi. Pasukan milisi Kurdi juga dilaporkan telah menerima pasokan persenjataan canggih hasil rampasan dari Hamas dan Hezbollah, lengkap dengan pelatihan taktis dari instruktur militer Israel.

Hingga kini, perdebatan mengenai pihak yang menghasut Trump untuk membatalkan operasi tersebut masih terus bergulir. Sejumlah pihak bahkan menuding adanya intervensi dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Sementara itu, pertempuran antara pasukan IRGC dan gerilyawan Kurdi dilaporkan masih berkecamuk hebat di wilayah Sardasht dan Piranshahr.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All