Lembaga anti-diskriminasi Kick It Out menyoroti lonjakan insiden diskriminasi dalam sepak bola yang mencapai angka tertinggi sepanjang tahun ini. Menanggapi situasi tersebut, Kick It Out mendesak diberlakukannya sanksi yang lebih berat bagi pelaku diskriminasi di dunia sepak bola.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah laporan insiden diskriminasi yang diterima Kick It Out pada musim 2022/23 melonjak signifikan, mencapai rekor 1.258 insiden. Angka ini merupakan peningkatan drastis dibandingkan musim sebelumnya yang mencatat 804 insiden.
Laporan tersebut merinci bahwa dari total 1.258 insiden, 49% di antaranya berkaitan dengan ras, sementara 33% terkait dengan orientasi seksual. Selain itu, 10% kasus menyangkut agama dan 8% kasus lainnya merujuk pada disabilitas.
Mayoritas insiden, yaitu sebesar 69%, terjadi di tingkat amatir, menunjukkan bahwa masalah diskriminasi tidak hanya terbatas pada level profesional. Sementara itu, 26% insiden dilaporkan terjadi di sepak bola profesional, dan sisanya 5% berasal dari ranah non-sepak bola yang dilaporkan kepada Kick It Out.
Toni Daley, seorang mantan pemain sepak bola yang kini menjadi konsultan Kick It Out, menyatakan keprihatinannya terhadap tren ini. Ia menekankan pentingnya tindakan yang lebih tegas. “Kita telah melihat peningkatan yang mengkhawatirkan dalam insiden diskriminasi. Ini menunjukkan bahwa sanksi yang ada saat ini belum cukup efektif untuk memberikan efek jera,” ujar Daley.
Daley menambahkan bahwa perlu ada kolaborasi yang lebih erat antara badan pengatur sepak bola, klub, dan lembaga penegak hukum untuk memastikan setiap insiden ditangani dengan serius. “Kami perlu melihat hukuman yang lebih berat, termasuk larangan bermain yang lebih lama dan denda yang lebih besar, agar para pelaku jera dan memberikan pesan yang jelas bahwa diskriminasi tidak akan ditoleransi dalam olahraga ini,” tegasnya.
Kick It Out juga menyoroti bahwa meskipun jumlah laporan meningkat, kesadaran akan pentingnya melaporkan insiden diskriminasi juga mengalami peningkatan. Hal ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memberantas praktik diskriminatif secara menyeluruh di dunia sepak bola Inggris.
