Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam mengimplementasikan Paris Agreement melalui berbagai langkah konkret, salah satunya dengan menargetkan peningkatan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional. Komitmen ini diperkuat dengan target ambisius mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Salah satu bukti nyata dari upaya ini terlihat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034. Dalam dokumen tersebut, porsi penggunaan energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 17%. Angka ini mencerminkan progres yang signifikan dalam transisi energi yang sedang digalakkan oleh pemerintah.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Archandra Tahar, dalam sebuah kesempatan menyatakan, “Kita serius menjalankan Paris Agreement. Komitmen kita adalah Net Zero Emission 2060.” Pernyataan ini menegaskan kesungguhan pemerintah dalam berkontribusi pada upaya global mitigasi perubahan iklim.
Peningkatan porsi EBT dalam RUPTL PLN bukan hanya sekadar angka, melainkan sebuah strategi untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga air, tenaga surya, dan biomassa menjadi prioritas untuk mencapai target NZE.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong inovasi dan investasi di sektor energi terbarukan. Berbagai kebijakan dan insentif diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi EBT dan meningkatkan bauran energi bersih di Indonesia. Upaya ini diharapkan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan energi nasional dan pertumbuhan ekonomi hijau.
