Indonesia dan Malaysia merajut kerjasama strategis melalui proyek ambisius ‘Baterai Nusantara’ guna mendorong pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang mandiri di kawasan ASEAN. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi kedua negara dalam rantai pasok global energi terbarukan.
Langkah konkret ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang melibatkan tiga perusahaan terkemuka dari kedua negara. PT Pertamina (Persero) dari Indonesia, serta Petronas Chemicals Group Berhad (PCG) dan Tenaga Nasional Berhad (TNB) dari Malaysia, menjadi pilar utama dalam inisiatif ‘Baterai Nusantara’.
Perjanjian ini tidak hanya sekadar kerjasama bisnis, tetapi juga mencakup aspek penelitian dan pengembangan (R&D) yang mendalam. Fokus utama adalah pada teknologi baterai kendaraan listrik, termasuk eksplorasi bahan baku, proses manufaktur, hingga daur ulang baterai bekas. Tujuannya adalah menciptakan solusi baterai yang inovatif, efisien, dan berkelanjutan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Arifin Tasrif, menyambut baik kerjasama ini. Ia menyatakan, “Kolaborasi ini merupakan tonggak penting dalam upaya kita mewujudkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dan berdaya saing di ASEAN.” Arifin menekankan bahwa sinergi antara Indonesia dan Malaysia akan membuka peluang besar untuk pertumbuhan industri hijau di kawasan.
Sementara itu, perwakilan dari pihak Malaysia, yang diwakili oleh Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Dato’ Seri Mohamed Azmin Ali, juga menunjukkan optimisme yang tinggi. “Proyek ‘Baterai Nusantara’ ini bukan hanya tentang memproduksi baterai, tetapi bagaimana kita membangun kapasitas industri secara menyeluruh, mulai dari hulu ke hilir,” ujar Dato’ Seri Mohamed Azmin Ali. Ia menambahkan bahwa kerjasama ini akan mendorong transfer teknologi dan keahlian, serta menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat kedua negara.
Lebih lanjut, kolaborasi ini mencakup berbagai tahapan, mulai dari eksplorasi dan penambangan bahan baku kunci seperti nikel dan kobalt, hingga tahap produksi sel baterai dan perakitan paket baterai. Aspek daur ulang baterai bekas juga menjadi perhatian serius, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang semakin diutamakan dalam industri global.
Proyek ‘Baterai Nusantara’ diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap target elektrifikasi transportasi yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia, sekaligus memperkuat posisi ASEAN sebagai pemain kunci dalam industri kendaraan listrik global di masa depan.
