Indonesia masih menghadapi kendala signifikan dalam melakukan ekstraksi logam tanah jarang (LTJ) dari sumber daya mineralnya. Keterbatasan teknologi menjadi akar permasalahan utama yang menghambat upaya peningkatan nilai tambah komoditas tersebut, bahkan berdampak pada kelancaran ekspor mineral secara umum.
Situasi ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot Ariyono, dalam sebuah kesempatan. Menurutnya, teknologi yang ada saat ini belum mampu mengolah bijih LTJ secara efisien. “Kita masih belum bisa untuk melakukan ekstraksi logam tanah jarang. Ini yang menjadi tantangan terbesar kita,” ujar Bambang Gatot Ariyono.
Ketergantungan pada teknologi asing menjadi konsekuensi logis dari kondisi tersebut. Bambang Gatot menambahkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada negara lain untuk proses pengolahan dan pemurnian LTJ. Hal ini menyebabkan Indonesia belum dapat melakukan hilirisasi industri secara maksimal untuk komoditas strategis ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tantangan teknologi ini tidak hanya menyangkut proses ekstraksi awal, tetapi juga teknologi pemisahan dan pemurnian yang kompleks. LTJ terdiri dari 17 unsur kimia yang memiliki sifat sangat mirip, sehingga memerlukan teknologi canggih dan presisi tinggi untuk memisahkannya satu sama lain. “Ada 17 jenis logam tanah jarang, sifatnya hampir sama, jadi pemisahannya sangat sulit dan memerlukan teknologi yang sangat canggih,” jelasnya.
Akibatnya, ekspor mineral Indonesia saat ini turut terhambat oleh isu LTJ. Meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang melimpah, termasuk nikel dan bauksit yang berpotensi mengandung LTJ, nilai ekspornya belum dapat dioptimalkan. Selama ini, Indonesia masih mengekspor bijih mineral mentah atau produk olahan dasar, belum mencapai tahap produk bernilai tambah tinggi yang melibatkan LTJ.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah terus mendorong penelitian dan pengembangan teknologi. Bambang Gatot mengakui bahwa diperlukan investasi besar dalam riset dan inovasi untuk menciptakan teknologi pengolahan LTJ yang mandiri dan efisien. Upaya ini diharapkan dapat membuka peluang hilirisasi industri LTJ di masa depan, mengurangi ketergantungan pada negara lain, dan meningkatkan devisa negara dari sektor pertambangan.
